Indonesia Masih Memiliki Modal Besarnya, PANCASILA
Oleh : Mei Purwowidodo
*Disclamer Kita patut beruntung para Tokoh Pendiri NKRI telah mewariskan Pancasila kepada bangsa Indonesia yg kita rayakan pada 1 Juni 2026 hari ini.
Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, banyak negara sedang menghadapi tekanan geopolitik dan geostrategi yang kompleks. Persaingan kekuatan besar dunia, perang dagang, perebutan sumber daya alam, penguasaan teknologi, hingga pertarungan pengaruh ekonomi telah menjadi realitas global yang tidak bisa dihindari.
Dalam situasi tersebut, negara-negara berkembang sering kali menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Kekuatan modal global bergerak melintasi batas negara, memengaruhi pasar keuangan, investasi, perdagangan, bahkan opini publik.
Ketika kepentingan ekonomi global bertemu dengan kepentingan politik global, sering kali rakyat biasa yang merasakan dampaknya melalui kenaikan harga, ketidakpastian ekonomi, dan berkurangnya daya beli.
Namun di tengah kondisi tersebut, Indonesia sesungguhnya masih memiliki modal besar yang tidak dimiliki banyak bangsa lain, yaitu Pancasila.
Baca Juga : Membangun Sistem Pendidikan Berkeadilan di Kalimantan Barat
Pancasila bukan sekadar dasar negara yang dihafalkan dalam upacara. Pancasila adalah fondasi filosofis yang dirancang oleh para pendiri bangsa untuk menghadapi berbagai perubahan zaman.
Mereka sadar bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan kepentingan. Karena itu dibutuhkan sebuah titik temu yang mampu menjaga persatuan tanpa menghilangkan keberagaman.
Ketika dunia terjebak dalam pertarungan ideologi ekstrem, Indonesia memiliki jalan tengah. Ketika kapitalisme yang terlalu bebas berpotensi melahirkan kesenjangan sosial, Pancasila mengajarkan keadilan sosial.
Ketika berbagai kelompok saling berebut kepentingan, Pancasila mengajarkan musyawarah dan gotong royong. Dan ketika identitas sering dijadikan alat perpecahan, Pancasila menempatkan persatuan sebagai kekuatan utama bangsa.
Tantangan terbesar saat ini bukan hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri. Rendahnya literasi, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, polarisasi politik, serta menguatnya sikap individualisme dapat menggerus semangat kebangsaan yang selama ini menjadi perekat Indonesia.
Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya menjadi simbol. Ia harus hadir dalam perilaku sehari-hari. Sila Ketuhanan mengajarkan integritas moral. Sila Kemanusiaan mengajarkan penghormatan terhadap sesama.
Sila Persatuan mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Sila Kerakyatan mengajarkan pentingnya dialog dan musyawarah.
Sila Keadilan Sosial mengingatkan bahwa pembangunan harus dirasakan oleh seluruh rakyat.
Dalam konteks geopolitik global, Indonesia harus tetap menjaga prinsip bebas dan aktif. Tidak larut dalam kepentingan satu blok kekuatan tertentu, tetapi tetap membangun kerja sama dengan semua pihak berdasarkan kepentingan nasional. Kemandirian bangsa tidak berarti menutup diri dari dunia, melainkan mampu berdiri tegak dan menentukan arah sendiri tanpa kehilangan identitas.
Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia mampu melewati berbagai krisis, baik politik, ekonomi, maupun sosial. Modal terbesar yang membuat bangsa ini bertahan bukan semata-mata kekayaan alamnya, melainkan kekuatan nilai yang hidup dalam masyarakatnya.
Selama Pancasila masih menjadi pedoman dalam berpikir dan bertindak, Indonesia tetap memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai tekanan global. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi tantangan, melainkan bangsa yang memiliki pegangan kuat ketika badai datang menerpa.
Maka di tengah tarik-menarik geopolitik dunia dan dinamika ekonomi global yang sering kali dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan besar, Indonesia masih memiliki alasan untuk optimis.
Modal itu bernama Pancasila, sebuah warisan pemikiran yang bukan hanya relevan untuk masa lalu, tetapi juga penting untuk menjaga arah perjalanan bangsa di masa depan. (*)














