KabarKalimantan.id – Sepuluh siswa tim Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar dari SMA Negeri 1 Pontianak mendapat undangan ke Istana Wakil Presiden RI setelah polemik penilaian dewan juri pada final LCC tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral di media sosial.
Rombongan yang terdiri dari para siswa peserta LCC, Kepala SMAN 1 Pontianak Indang Maryati, serta dua guru pendamping bertolak menuju Jakarta dari Pontianak pada pukul 13.00 WIB.
Salah satu siswi yang ikut dalam rombongan tersebut adalah Josepha Alexandra Roxa Potifera, peserta yang menjadi sorotan publik setelah jawaban benarnya justru diberikan pengurangan nilai minus lima oleh dewan juri saat babak final berlangsung pada Sabtu (9/5/2025) di Novotel Hotel Pontianak
Polemik itu bermula pada sesi rebutan pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Baca Juga : Heboh LCC 4 Pilar Kalbar, Rifki Nizami Minta MPR RI Evaluasi Total Dewan Juri
Saat itu, pembawa acara menanyakan lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota BPK.
Josepha Alexandra dari Perwakilan Regu C dari SMAN 1 Pontianak kemudian menjawab “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun, Kepala Biro Pengkajian Konstitusi Setjen Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Dyastasita Widya Budi, yang bertindak sebagai juri, justru memberikan pengurangan skor minus lima karena jawaban tersebut dinilai salah.
Kesempatan menjawab kemudian berpindah kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas yang memberikan jawaban dengan redaksi serupa.
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” jawab peserta Regu B.
Kali ini, jawaban tersebut dinyatakan benar dan diberikan nilai sempurna oleh dewan juri.
“Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10,” kata Dyastasita.
Keputusan itu langsung diprotes Josepha Alexandra karena merasa jawaban yang mereka sampaikan identik dengan jawaban Regu B.
“Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” kata Josepha Alexandra
Menanggapi protes tersebut, Dyastasita tetap mempertahankan keputusan dewan juri dengan alasan artikulasi jawaban Regu C dinilai tidak terdengar jelas.
Situasi semakin panas setelah juri lainnya, Indri Wahyuni, menyebut peserta perlu memperhatikan artikulasi saat menjawab.
“Artikulasi itu penting. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, maka Dewan Juri berhak memberikan nilai minus lima,” ujarnya.
Video momen tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu gelombang kritik dari masyarakat.
Banyak warganet menilai jawaban siswa SMAN 1 Pontianak sebenarnya sudah benar secara konstitusional dan penilaian dewan juri dianggap tidak konsisten.
Polemik itu bahkan turut mendapat perhatian dari Rifki Nizami Karsayuda yang meminta MPR RI memberikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka.
Kini, di tengah perhatian publik yang terus mengalir, tim LCC Empat Pilar SMAN 1 Pontianak justru mendapat undangan langsung ke Istana Wakil Presiden RI, menjadi momentum baru di balik polemik yang sebelumnya menyita perhatian nasional. (*)






