KabarKalimantan.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat menggelar pertemuan rekonsiliasi antara SMA Negeri 1 Pontianak dan SMA Negeri 1 Sambas pasca polemik final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalbar yang viral di media sosial.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Disdikbud Kalbar itu turut dihadiri Pimpinan Badan Sosialisasi Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Abraham Liyanto, serta Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah. Selasa (19/5/2026)
Plt Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Alkadrie, mengatakan pertemuan tersebut dilakukan untuk meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di media sosial tentang polemik LCC 4 Pilar di Provinsi Kalimantan Barat.
“Alhamdulillah hari ini kita didatangi Ketua Badan Sosialisasi MPR dan Sekjen MPR RI untuk mengklarifikasi simpang siur pemberitaan terkait siapa yang akan mewakili Kalimantan Barat pada grand final di Jakarta tanggal 18 Agustus nanti,” ujarnya.
Baca Juga : Tiga Anak Perusahaan Sinar Mas Gelar Layanan Medis Gratis di Kecamatan Marau
Menurut Faisal, meski keputusan final belum diumumkan secara resmi, pihak MPR RI telah memberi sinyal bahwa aspirasi kedua sekolah akan diakomodasi, termasuk keinginan agar hasil lomba tingkat provinsi tidak dianulir.
“Nah, tadi Pak Abraham sudah memberikan bocoran bahwa mereka mengakomodir keinginan dari SMA Negeri 1 Pontianak dan SMA Negeri 1 Sambas yang tetap menginginkan hasil lomba tidak dianulir dan Kalbar tetap diwakili oleh SMA Negeri 1 Sambas,” jelasnya.
Faisal menegaskan, pertemuan tersebut juga menjadi ruang rekonsiliasi antara kedua sekolah yang belakangan seolah dipertentangkan di media sosial akibat polemik penilaian dewan juri.
Menurutnya, baik SMAN 1 Pontianak maupun SMAN 1 Sambas sebenarnya sama-sama menjadi korban dari situasi interaksi warganet di ruang digital
“SMA 1 Pontianak sedang mencari kebenaran terkait apa yang mereka alami. Sementara SMA 1 Sambas juga mendapatkan dampak yang kurang baik karena menjadi sasaran kemarahan netizen,” katanya.
Dirinya mengaku khawatir polemik berkepanjangan akan berdampak terhadap kondisi mental dan psikologis para siswa di kedua sekolah.
Karena itu, dalam pertemuan tersebut MPR RI juga menyarankan penguatan pendampingan psikologis melalui guru bimbingan konseling dan wali kelas.
“Penguatan psikis dari sekolah lewat guru BK dan wali kelas harus diperkuat, khususnya pasca kejadian ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Faisal meminta SMAN 1 Sambas mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi grand final tingkat nasional LCC Empat Pilar yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Agustus mendatang.
Dengan hasil rekonsiliasi tersebut, SMAN 1 Sambas dipastikan tetap menjadi wakil Provinsi Kalimantan Barat pada grand final nasional LCC Empat Pilar MPR RI.
Sementara itu, Pimpinan Badan Sosialisasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Abraham Liyanto, memastikan hasil final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat tidak akan dianulir.
Menurut Abraham, keputusan tersebut diambil setelah MPR RI mendengarkan berbagai masukan dan aspirasi yang berkembang pasca polemik penilaian dewan juri yang viral di media sosial.
“Begitu ada situasi ini, kami rapat pimpinan. Kami menghargai dan menghormati pendapat semua pihak. Karena itu kami datang langsung (ke Kalbar Red) membawa jawaban bahwa kami juga setuju dengan pendapat mereka, lomba tidak diulang,” ujarnya.
Ia menegaskan, SMAN 1 Sambas tetap akan menjadi wakil Kalimantan Barat pada grand final LCC Empat Pilar tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 18 Agustus mendatang.
Abraham mengakui polemik yang berkembang turut berdampak terhadap kondisi psikologis siswa, khususnya tim dari SMAN 1 Sambas yang sempat menjadi sasaran komentar negatif warganet.
“Kita juga tentu kecewa karena mereka merasa dibully. Perhatian publik lebih banyak kepada SMAN 1 Pontianak, sementara anak-anak Sambas juga menerima dampaknya,” katanya.
Karena itu, ia meminta pihak sekolah dan guru terus memberikan dukungan moral kepada para siswa agar tetap percaya diri menghadapi kompetisi tingkat nasional.
“Berikan semangat kepada mereka. Adrenalin dan semangat mereka sekarang harus jauh lebih besar karena mereka membawa nama besar Kalimantan Barat,” tegas Abraham.
Dalam kesempatan itu, Abraham juga menyampaikan bahwa polemik yang terjadi justru memperlihatkan nilai-nilai Empat Pilar yang selama ini disosialisasikan melalui lomba tersebut.
Menurutnya, proses rekonsiliasi yang dilakukan kedua sekolah menunjukkan semangat demokrasi, toleransi, musyawarah mufakat, dan integritas di kalangan generasi muda.
“Inilah tujuan dari lomba cerdas cermat ini. Mereka sudah menunjukkan demokrasi, toleransi, musyawarah mufakat, menjaga integritas, dan mampu mewakili Kalimantan Barat dengan baik,” ujarnya.
Ia bahkan menilai para siswa telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang baik melalui cara mereka menyampaikan pendapat dan menyikapi polemik secara dewasa.
“Tadi kita beri kesempatan sedikit saja kepada juru bicara mereka, ternyata mereka sudah menunjukkan jiwa pemimpin,” katanya.
Abraham menegaskan, penguatan karakter generasi muda menjadi bagian penting dari sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, terutama dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Negara kita besar. Kita perlu kekuatan generasi muda untuk menjaga NKRI ini,” pungkasnya. (*)












