KabarKalimantan.id – 55 bangunan cagar budaya Kalimantan Barat resmi didokumentasikan dalam sebuah ensiklopedia yang diluncurkan melalui kegiatan deseminasi, pameran dan seminar cagar budaya yang digelera di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Sabtu (13/6/2026).
Penyusunan ensiklopedia tersebut menjadi upaya mendokumentasikan sekaligus menjaga memori kolektif masyarakat Kalimantan Barat terhadap berbagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi perjalanan daerah.
Ketua Tim Penyusun Ensiklopedia, Haris Firmansyah, mengatakan gagasan awal penyusunan buku tersebut sebenarnya mencakup seluruh cagar budaya di Kalimantan Barat. Namun setelah melalui proses kajian dan evaluasi, fokus pembahasan dipersempit pada bangunan cagar budaya.
“Awalnya kami ingin menyusun Ensiklopedia Cagar Budaya Kalimantan Barat secara umum. Namun setelah dievaluasi, cakupannya terlalu luas karena cagar budaya terdiri dari bangunan, struktur, kawasan, situs dan lainnya. Akhirnya kami fokus pada bangunan cagar budaya,” ujarnya saat memberikan sambutan pada pembukaan deseminasi, pameran dan seminar cagar budaya yang digelar di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Sabtu (13/6/2026)
Baca Juga : Gema Membangun Desa Bukan Sekadar Dialog, Warga Temajuk Disuguhi Aneka Lomba Berhadiah Jutaan
Haris menjelaskan, dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, hanya 12 daerah yang masuk dalam pendataan. Kabupaten Bengkayang dan Melawi belum memiliki bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya di tingkat daerah.
“Dari 12 kabupaten/kota tersebut terkumpul 55 bangunan yang masuk dalam ensiklopedia ini,” ujar dosen sejarah Untan itu yang kini tengah menempuh gelar doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Menurutnya, jumlah tersebut bersifat dinamis karena status cagar budaya dapat berubah seiring waktu. Bangunan dapat hilang akibat kebakaran, kerusakan, atau perubahan yang menyebabkan status cagar budayanya dicabut.
Sebaliknya, bangunan lain yang memenuhi syarat juga dapat ditetapkan sebagai cagar budaya di masa mendatang. Dirinyapun membuka peluang diterbitkannya edisi lanjutan dengan jumlah objek yang berbeda dari edisi saat ini.
Lebih jauh, Dirinya menegaskan bahwa ensiklopedia tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi fisik bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai upaya menjaga narasi sejarah yang melekat pada setiap bangunan.
“Ada bangunan yang secara fisik sudah berubah, tetapi nilai sejarahnya tetap penting untuk diceritakan. Yang ingin kami rawat adalah narasi sejarah dan ingatan kolektif yang melekat pada bangunan tersebut,” paparnya.
Dirinya mencontohkan salah satu masjid bersejarah di Kabupaten Ketapang yang bentuk fisiknya telah mengalami perubahan signifikan. kendati demikian, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian penting dari identitas daerah yang perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Haris berharap ensiklopedia tersebut dapat menjadi sumber referensi bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari sejarah Kalimantan Barat.
Selain itu, buku tersebut juga diharapkan dapat mendorong lahirnya berbagai kajian lanjutan terkait pelestarian cagar budaya di daerah.
Penyusunan ensiklopedia ini merupakan bagian dari Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui skema kajian objek pemajuan kebudayaan dan cagar budaya.
Selain peluncuran buku, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan seminar pelestarian cagar budaya yang menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas nilai penting cagar budaya sebagai identitas sejarah, memori kolektif, dan warisan budaya masyarakat Kalimantan Barat.
Adapun narasumber dalam seminar Seminar Ensiklopedia Cagar Budaya menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Timur Triyono selaku perwakilan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kalbar dan Ahmad Sofian selaku Pegiat Sejarah Kalbar.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan turut hadir Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Juliadi, Dinas Pendidikan Wilayah Kalbar Luh Gede Suparyani, Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Untan, Andang Firmansyah, Ketua Prodi Pendidikan Sejarah UPGRI, Sahid Hidayat.
Selain dihadiri oleh kalangan dosen dan mahasiswa, pameran interaktif ini juga dipadati oleh ratusan guru dan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Pontianak, meliputi SMAN 1, SMAN 7, SMAN 8, SMAS Mujahidin, MAS Mujahidin, MAN 1, MAN 2, hingga MA Matlaul Anwar.
Kehadiran teknologi visual 360° dan kemudahan akses e-book lewat scan barcode ini terbukti sukses menarik perhatian para generasi muda untuk menjelajahi situs sejarah Kalbar secara digital. (*)













