KabarKalimantan.id – Ratusan orang mengikuti aksi massa damai dalam rangka memperingati Hari Al-Quds Internasional yang digelar di kawasan Tugu Digulis, Jalan Ahmad Yani Pontianak, pada Jumat (13/03/2026).
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 15.00 hingga 17.30 WIB tersebut menjadi momentum solidaritas masyarakat terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam memperoleh kemerdekaannya.
Aksi yang diselenggarakan oleh Worldwide Anti Zionism Brotherhood (WAZIB) Chapter West Borneo ini berlangsung tertib dan damai.
“Hari ini Kalimantan Barat menjadi bagian dari sebuah gerakan kolektif berskala internasional untuk mendukung kemerdekaan Palestina, Aksi ini tidak hanya berlangsung di Pontianak, melainkan dilaksanakan juga di berbagai kota di setiap negara,” ujar Mohammad Reza, tim komunikasi WAZIB Chapter Kalbar.
Baca Juga : Perkuat Pendidikan Wilayah 3T, Dewan Pendidikan Kalbar dan PGRI Sungai Laur Gelar FGD
Menurut Mohammad, malapetaka besar yang dialami rakyat Palestina menuntut perhatian besar dari setiap bangsa di dunia.
“Hari Al Quds Internasional bukanlah milik umat Islam saja. Setiap insan yang memiliki empati dapat bergerak dan memberikan berbagai dukungannya atas genosida yang dilakukan rezim Epstein-Netanyahu dan Trump,” tegasnya.
Mohammad menjelaskan, bangsa Indonesia memiliki tanggungjawab yuridis, moral, dan historis untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
“Pertama, Pembukaan UUD 1945 tegas menyebutkan mandat mendukung kemerdekaan setiap bangsa sebagai sebuah hak yang esensial; Kedua, sebagai sesama negara Asia, kita memiliki kewajiban untuk saling dukung dan membesarkan; Ketiga, sejarah mencatat bahwa Palestina termasuk negara pertama yang memberikan selamat atas kemerdekaan Indonesia pada 1945 silam. Founding father negeri ini, Ir. Soekarno, bahkan mengatakan bahwa Indonesia akan tetap berdiri di hadapan penjajahan rezim Zionis atas tanah Palestina,” tegas pegiat sosial ini.
“Karena itulah kami menolak keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dan kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Dua hal itu adalah bentuk penghinaan terhadap kehormatan bangsa Indonesia dan pemandulan terhadap upaya perjuangan Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina,” tambahnya.
Menurut Mohammad, Board of Peace hanyalah kedok yang digunakan Trump untuk menutup dosa rezim Zionis dan Amerika Serikat.
“Mereka membebankan tanggung jawab rekonstruksi Palestina kepada negara yang tak terlibat dalam genosida, sementara rezim Israel tidak dimintai pertanggungjawaban apapun,” jelasnya.
Mohammad menambahkan bahwa ART berperan ibarat tali kekang yang mengendalikan sebuah negara.
“Kami melihat ART sebagai kontrol hegemoni rezim Epstein Amerika Serikat terhadap Indonesia. Kita adalah bangsa yang terhormat dan mertabat, maka kita pasti menolak upaya hegemoni ini,” tegas Mohammad.
Mohammad mengajak setiap elemen masyarakat untuk mendesak pemerintah keluar dari BoP dan ART.
“Bangsa Palestina bertarung saling hadap dengan tentara pendudukan, sementara kit, tapi tujuannya sama: mendukung kemerdekaan Palestina,” tutupnya. (*)






