KabarKalimantan.id – Dosen Pascasarjana IAIN Pontianak, Dr. Nelly Mujahidah, resmi mendaftarkan diri sebagai calon Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030.
Kemunculan Nelly dalam kontestasi pemilihan rektor tampaknya akan membawa arah baru IAIN Pontianak sepanjang 4 tahun kedepan
Berkas pendaftaran Nelly diterima langsung Panitia Penjaringan Bakal Calon Rektor IAIN Pontianak pada Rabu, 6 Mei 2026.
Ketua Panitia Penjaringan, Eka Hendry, menyampaikan bahwa proses pendaftaran bakal calon rektor masih akan dibuka hingga 19 Mei 2026.
Figur Nelly Mujahidah sendiri bukan nama baru di lingkungan kampus IAIN Pontianak.
Baca Juga : SMA Muhammadiyah 1 Pontianak Diproyeksikan Jadi Sekolah Unggulan Utama di Kalbar
Dirinya tercatat sebagai dosen Program Pascasarjana pada Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab dengan rekam jejak akademik yang cukup kuat dan multidisipliner.
Lahir di Pontianak pada 2 Februari 1974, Nelly menempuh pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Arab di STAIN Pontianak pada 1998, kemudian melanjutkan S1 Teknik Elektro di Universitas Tanjungpura pada 1999.
Selanjutnya menyelesaikan pendidikan magister di IAIN Walisongo Semarang pada 2006, sebelum meraih gelar doktor bidang Pengembangan Kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2022.
Latar belakang akademik yang memadukan keilmuan keislaman, pendidikan, hingga teknologi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama yang dibawa Nelly dalam visi kepemimpinannya.
Nelly menawarkan gagasan transformasi kampus yang tidak hanya fokus pada penguatan akademik, tetapi juga modernisasi tata kelola dan daya saing global.
Dalam dokumen visi-misinya, Nelly membawa visi besar menjadikan IAIN Pontianak sebagai “Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang Bermartabat, Berintegritas, Amanah, Mencerdaskan Ummat serta Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal dan Keislaman Moderat.”
Visi tersebut diterjemahkan melalui agenda strategis percepatan transformasi kelembagaan IAIN menjadi UIN pada 2027.
Bagi Nelly, perubahan status itu bukan sekadar pergantian nomenklatur, melainkan langkah besar untuk memperluas integrasi ilmu keislaman dengan sains, teknologi, humaniora, dan ekonomi modern.
Di tengah tantangan globalisasi dan percepatan digitalisasi, ia menilai perguruan tinggi Islam harus bergerak lebih adaptif agar mampu melahirkan lulusan yang kompetitif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, Nelly menekankan model kepemimpinan berbasis integritas, kolaborasi, inovasi, dan tata kelola digital melalui pembangunan ekosistem smart campus, penguatan blended learning, hingga transformasi layanan akademik berbasis teknologi.
Namun lebih dari itu, ia juga membawa arah baru positioning kampus sebagai “kampus perbatasan unggulan” di kawasan Indonesia–Malaysia–Brunei Darussalam.
Menurutnya, posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga merupakan peluang strategis untuk menjadikan IAIN Pontianak sebagai pusat pengembangan border studies, moderasi beragama, diplomasi sosial-keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat kawasan perbatasan.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui rencana pembentukan Pusat Studi Perbatasan dan ASEAN, pengembangan desa binaan di wilayah 3T seperti Entikong, Aruk, Jagoi Babang, dan Temajuk, hingga penguatan kerja sama internasional dengan kampus-kampus di Malaysia dan ASEAN melalui program joint research, student mobility, dan double degree.
Pada bidang akademik, Nelly juga menargetkan peningkatan jumlah dosen bergelar doktor dan profesor, pembukaan program studi baru berbasis integrasi keilmuan, serta peningkatan publikasi internasional terindeks Scopus sebagai bagian dari penguatan mutu institusi.
Target besarnya cukup ambisius pada 2027, IAIN Pontianak resmi bertransformasi menjadi UIN.
Di tengah dinamika dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, langkah Nelly Mujahidin maju sebagai calon rektor menghadirkan harapan baru bahwa perguruan tinggi Islam di daerah juga mampu tampil modern, kompetitif, dan memiliki pengaruh strategis di tingkat regional maupun global. (*)












