Ribuan Warga Meriahkan Pawai Cap Go Meh Ketapang 2026

Bupati Alex Sebut Jadi Simbol Toleransi dan Kebersamaan Masyarakat di Kabupaten Ketapang

PERAYAAN - Bupati Ketapang Alexander Wilyo saat melepas pawai Cap Go Meh 2026 di Kabupaten Ketapang

KabarKalimantan.id – Puncak perayaan Cap Go Meh 2026 di Kabupaten Ketapang berlangsung meriah, Selasa (3/3/2026).

Ribuan warga memadati sejumlah ruas jalan di pusat kota untuk menyaksikan pawai budaya yang menampilkan beragam atraksi khas Tionghoa dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Ketapang.

Perayaan tahun ini menghadirkan 10 replika naga, sekitar 30 kelompok barongsai, mobil hias, serta replika burung phoenix berukuran besar yang menjadi daya tarik utama. Sepanjang rute pawai, masyarakat tampak antusias menyaksikan atraksi yang berlangsung hingga acara berakhir.

Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat sehingga perayaan Cap Go Meh dapat berlangsung aman, tertib, dan meriah.

Baca Juga : Kawal Kepentingan Daerah Alex Wilyo Hadiri Rakernas XVII APKASI 2026 di Batam

Menurut Bupati yang akrab disapa Alex itu, keberhasilan penyelenggaraan Cap Go Meh menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Ketapang yang hidup dalam keberagaman.

“Ketapang adalah rumah besar bagi kita semua. Keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada justru menjadi kekuatan untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan,” ujarnya.

Alex menegaskan, keamanan dan ketertiban merupakan faktor penting yang memungkinkan masyarakat dapat mengekspresikan budaya dan tradisinya secara terbuka.

“Kondisi yang aman dan damai menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat mengekspresikan budaya secara terbuka dan penuh kebersamaan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa Kabupaten Ketapang, Susilo Aheng, mengatakan perayaan Cap Go Meh tahun ini memiliki makna yang lebih istimewa karena berlangsung berdekatan dengan bulan Ramadan dan menjelang perayaan Paskah.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi cerminan nyata kehidupan masyarakat Ketapang yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghormati antarumat beragama.

“Cap Go Meh saat ini bukan hanya menjadi perayaan masyarakat Tionghoa, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Ketapang yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, perayaan Cap Go Meh juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap terjaga.

“Cap Go Meh telah menjadi ruang kebersamaan dan sarana edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda, agar nilai-nilai tradisi tetap terjaga dan dikenal secara luas,” tambahnya.

Ketua Panitia Cap Go Meh 2026, Rahman Efendi, menegaskan bahwa perayaan tersebut merupakan milik seluruh masyarakat Ketapang tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.

Menurutnya, perayaan yang berlangsung di tengah momentum Ramadan dan menjelang Paskah semakin memperlihatkan kuatnya nilai toleransi yang tumbuh di Kabupaten Ketapang.

“Ini adalah bukti nyata bahwa Ketapang adalah daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Kita hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai,” katanya.

Perayaan Cap Go Meh 2026 pun tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat citra Ketapang sebagai daerah yang harmonis, multikultural, dan mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakatnya. (*)