Maksimalkan Pelabuhan Internasional Kijing untuk Aktivitas Bongkar Muat Barang

Terminal Internasional Kijing yang telah dibangun dengan investasi besar itu sudah memiliki fasilitas berstandar tinggi

PELABUHAN - Kapal Bersandar di Teriminal Internasional Kijing, Rabu (12/11/2025) Pengamat Transportasi Antarmoda Syarif Usmulyani meminta seluruh pemangku kepentingan agar segera memaksimalkan Operasional Kijing sebagai Tempat Bongkar Muat Barang. (Hamdan/KabarKalimantan.id

KabarKalimantan.id – Pengamat transportasi antar moda, Syarif Usmulyani Alkadrie, mendorong pemerintah pusat dan daerah dapat menyusun regulasi agar seluruh pelaku usaha pelabuhan yang dikelola swasta dan negara di Pontianak segera berpindah operasionalnya ke Terminal Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah. Hal tersebut agar Pelabuhan Kijing dapat optimal sebagai pusat aktivitas bongkar muat barang.

Usmulyani menilai Terminal Internasional Kijing yang telah dibangun dengan investasi besar itu sudah memiliki fasilitas berstandar tinggi, namun pemanfaatannya masih jauh dari kata optimal.

“Fasilitas pendukungnya sangat-sangat maksimum. Cuman, utilitas daripada penggunaan dengan investasi yang cukup besar ini tidak maksimum,” ujar Syarif Usmulyani Alkadrie saat meninjau langsung Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Rabu (12/11/2025).

Hasil pantauan yang dilakukan fasilitas yang tersedia di Kijing sudah tergolong lengkap dan modern. Terminal tersebut memiliki daya tampung hingga 14 kapal, dilengkapi crane, sistem suplai pipeline, serta perencanaan rel berkapasitas tonase tinggi yang siap mendukung aktivitas bongkar muat dalam skala besar.

Namun, kata dia, kesiapan fasilitas itu belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur darat. “Intermoda transportation ini tidak berjalan maksimum karena tidak ada jalan yang mempercepat akses dari dan ke pelabuhan,” jelasnya.

Baca Juga : Pemangkasan TKD 2026: Bupati Erlina Konfirmasi Mempawah Kehilangan Rp137 Miliar, Dorong Inovasi dan Peningkatan PAD

Butuh Infrastruktur Pendukung

Menurut Syarif, kondisi jalan dari dan menuju Terminal Kijing saat ini belum terhubung dengan baik, sehingga mobilitas barang menjadi terhambat. Ia menyebutkan, tingkat operasional pelabuhan baru mencapai sekitar 30 persen dari kapasitas total sejak diresmikan.

“Sangat disayangkan perlengkapan yang demikian besar investasinya itu tidak dimaksimalkan. Sekarang ini Pelabuhan Kijing cuman operate dengan sistem tidak sampai 50%, baru ada 30%,” katanya.

Tentunyat hal itu menjadi kerugian besar mengingat potensi Pelabuhan Kijing sebagai simpul logistik utama Kalimantan Barat. Oleh sebab itu, ia meminta agar pemerintah provinsi dan pusat segera mempercepat pembangunan jalan dan regulasi pendukung agar investasi besar di sektor kepelabuhanan tidak sia-sia.

Selain infrastruktur fisik, Syarif juga menyoroti pentingnya percepatan kebijakan untuk menarik investasi dan memperluas kemitraan operasional. Ia menyebut, kemampuan Terminal Kijing saat ini baru sekitar 3.000 TEUs, sementara target jangka panjang Pelindo Pontianak mencapai 300.000 TEUs.

“Percepatan operasional Pelindo dari Pontianak ke Pelabuhan Kijing ini sangat urgensi untuk dipercepat,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan optimalisasi Pelabuhan Kijing akan menjadi penentu kemajuan sektor logistik dan ekonomi Kalimantan Barat secara keseluruhan.

“Ini tanggung jawab Pemerintah. Tolong Pemerintah melihat ini demi kemajuan dan maksimalisasi potensi Kalbar yang ada,” ujarnya. (*)