KabarKalimantan.id – Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) 2026 Provinsi Kalimantan Barat akan menggelar Seminar Internasional bertema “Pemberdayaan Masyarakat Dayak dalam Arus Globalisasi: Strategi Pembangunan Manusia Berbasis Pendidikan dan Kearifan Lokal di Kalimantan untuk Memperkuat Peran Masyarakat Dayak di Ibu Kota Nusantara”, pada Selasa, 19 Mei 2026 di Aula Rumah Radakng Pontianak.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Gawai Dayak 2026 tersebut akan menghadirkan akademisi nasional dan internasional, tokoh adat, pemerintah, hingga praktisi pendidikan untuk membahas posisi strategis masyarakat Dayak dalam menghadapi tantangan globalisasi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Koordinator Seksi Seminar, Dr. Pitalis Mawardi B., M.Pd., Ph.D., mengatakan seminar internasional ini menjadi ruang dialog akademik sekaligus forum strategis untuk memperkuat peran masyarakat Dayak dalam pembangunan manusia berbasis pendidikan dan kearifan lokal.
Menurutnya, masyarakat Dayak memiliki kekayaan budaya, sistem pengetahuan tradisional, serta nilai-nilai sosial yang penting untuk dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Baca Juga ; Dewan Pendidikan Kalbar Apresiasi Keputusan MPR RI Gelar Ulang Final LCC 4 Pilar
“Globalisasi membawa peluang sekaligus tantangan. Masyarakat Dayak harus mampu mengambil peran dalam pembangunan modern tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatan utama,” ujarnya.
Seminar tersebut dijadwalkan menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., sebagai keynote speaker.
Selain itu, sejumlah narasumber lain juga akan hadir, di antaranya Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Politisi sekaligus tokoh Dayak Kalbar Lasarus, S.Sos., M.Si., akademisi Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) Dr. Louis Ringah Kanyan, Dr. Pitalis Mawardi B., M.Pd., Ph.D., tokoh pemberdayaan ekonomi Dr. Drs. Stefanus Masiun, SH., ME., serta selegram Dayak Delli Sape.
Adapun subtema yang akan dibahas meliputi penguatan peran masyarakat Dayak dalam pembangunan IKN, integrasi kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan infrastruktur, transformasi identitas budaya Dayak di era globalisasi, penguatan ekonomi kerakyatan berbasis budaya daerah, hingga peran pendidikan dalam pembangunan sumber daya manusia masyarakat Dayak.
Pitalis mengatakan targetkan peserta seminar sebanyak 150 hingga 200 orang yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, tokoh adat, organisasi masyarakat Dayak, pemerintah daerah, praktisi pendidikan, serta peneliti internasional yang memiliki perhatian terhadap masyarakat adat.
Selain seminar utama dan diskusi panel, kegiatan juga akan dirangkaikan dengan call for papers sebagai ruang kontribusi gagasan ilmiah dan pemikiran strategis terkait pembangunan masyarakat adat Dayak.
“Harapan kami seminar internasional Gawai Dayak dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan, penguatan jejaring akademik, serta publikasi ilmiah yang mendukung pembangunan masyarakat Dayak secara berkelanjutan di Kalimantan Barat maupun dalam konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara,” pungkasnya. (*)











