KabarKalimantan.id – PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) memperkuat komitmen untuk menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program kemitraan strategis bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Mekar Bersama, Rabu 15 April 2026.
Langkah ini diambil sebagai solusi untuk mengalihfungsikan lahan non-produktif seluas 14 hektar di dalam konsesi Mopakha.
Wilayah ini sebelumnya diidentifikasi sebagai zona rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau.
Kegiatan penanaman ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Desa Sukamaju, M. Jupri, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, serta Ika Heriansyah, Ph.D selaku tenaga ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca Juga : Wagub Kalbar Krisantus Desak Percepatan Operasional Pelabuhan Kijing
Integrasi Pangan dan Tanaman Hutan
Konsep agroforestry yang diterapkan menggabungkan tanaman pertanian dengan tanaman pohon atau tumbuhan berkayu. Saat ini, 70 persen dari total lahan 14 hektar telah produktif ditanami jagung. Sementara itu, 30 persen sisanya mulai ditanami berbagai bibit tanaman pohon hutan asli setempat dan pohon komersil penghasil buah, di antaranya, Durian burung, Durian montong, Petai, Cempedak, Nangka, Jengkol, dan Kopi
Sekdes Sukamaju M. Jupri menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, keterlibatan aktif perusahaan dan masyarakat, akademisi dari BRIN, dan pendampingan DLHK Kalbar memastikan bahwa pengelolaan lahan tidak hanya memberikan manfaat finansial jangka pendek bagi warga. Tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem desa dalam jangka panjang.
“Program merupakan ini bukti nyata solusi kolaborasi antara masyarakat, Perusahaan, dan Pemerintah Desa. Semoga ada peluang kemitraan untuk kelompok lainnya di masa depan”, tutup M.Jupri.
Langkah kolaboratif ini sekaligus menjadi kontribusi nyata KTH Mekar Bersama dan PT Mopakha dalam mendukung agenda prioritas pemerintah terkait ketahanan pangan nasional.
Melalui pemanfaatan lahan secara optimal dan berkelanjutan, program agroforestry ini diharapkan mampu menyediakan sumber pangan alternatif bagi warga, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kelestarian hutan adalah investasi terbaik untuk kesejahteraan generasi mendatang di Desa Sukamaju. (*)












