News  

Komite SMAN 1 Pontianak Dorong Bentuk Eskul 4 Pilar Seluruh SMA di Indonesia

keberadaan ekskul tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat SMAN 1 Pontianak kerap menjadi langganan juara dalam ajang Lomba Cerdas Cermat

KOMITE - Anggota Komite SMAN 1 Pontianak saat berfoto bersama Pimpinan Badan Sosialisasi MPR Abraham Liyanto dan Plt Sekjen MPR RI Siti Fauziah saat berada di ruang Kepala SMAN 1 Pontianak, Selasa (19/5/2026)

KabarKalimantan.id – Anggota Komite SMA Negeri 1 Pontianak, Wahyu Cundrik Pamungkas, mengungkapkan bahwa sekolahnya telah memiliki ekstrakurikuler (Ekskul) Empat Pilar Kebangsaan sejak 2016.

Menurutnya, keberadaan ekskul tersebut menjadi bukti nyata bahwa seluruh keluarga besar SMAN 1 Pontianak memandang penting pemahaman dan implementasi nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan.

“Sejak 2016 di SMANSA Pontianak sudah berdiri Ekskul Empat Pilar Kebangsaan. Ini menjadi bukti nyata bahwa seluruh komponen keluarga besar SMANSA menilai penting pemahaman dan pengimplementasian Empat Pilar Kebangsaan bagi siswa-siswi sebagai generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Cundrik usai menerima kunjungan Pimpinan Badan Sosialisasi Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Abraham Liyanto, di SMAN 1 Pontianak pada Selas (19/5/2026)

Baca Juga : AKHIR Polemik Final LCC 4 Pilar Kalbar, MPR RI Akomodir Keingingan SMAN 1 Sambas dan Pontianak

Menurut Wahyu, keberadaan ekskul tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat SMAN 1 Pontianak kerap menjadi langganan juara dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan MPR RI.

“Oleh karena itu sangat wajar jika SMANSA Pontianak menjadi langganan juara LCC Empat Pilar Kebangsaan yang dilaksanakan oleh MPR RI,” katanya.

Ia menilai LCC Empat Pilar merupakan strategi efektif dalam mensosialisasikan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda, khususnya generasi Z dan Alpha. Melalui kompetisi tersebut, pelajar terdorong untuk mempelajari konstitusi, wawasan kebangsaan, hingga nilai demokrasi dan toleransi secara lebih mendalam.

“Anak-anak termotivasi untuk belajar dan berlomba agar bisa menjadi utusan tim LCC yang setiap tahunnya rutin mengikuti event nasional,” ujarnya.

Lebih jauh, Wahyu berharap model Ekskul Empat Pilar yang diterapkan di SMAN 1 Pontianak dapat diadopsi sekolah-sekolah lain, baik di Kalimantan Barat maupun secara nasional.

Menurutnya, pola pembinaan seperti ini efektif membangun karakter kebangsaan sekaligus meningkatkan kualitas literasi konstitusi di kalangan pelajar.

“Kami berharap Ekskul Empat Pilar seperti di SMANSA Pontianak bisa menjadi contoh dan diadopsi sekolah-sekolah lain di Kalbar bahkan Indonesia. Karena ini bukan sekadar soal lomba, tetapi membentuk generasi muda yang memahami kebangsaan, konstitusi, dan nilai persatuan,” tegasnya.

Ia menilai penguatan pendidikan kebangsaan di lingkungan sekolah menjadi semakin penting di tengah tantangan era digital dan derasnya arus informasi yang mempengaruhi generasi muda.