GAPKI Kalbar Salurkan Sejumlah Bantuan Ramadan di HUT ke-45

Momentum Refleksi Tata Kelola Sawit dan Kepedulian Sosial

WAWANCARA - Ketua GAPKI Cabang Kalbar, Aris Supratman saat diwawancarai media pada acara HUT ke 45 GAPKI yang digelar di Hotel Mercure, Jumat (27/2/2026)

KabarKalimantan.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat merayakan HUT ke-45 dengan syukuran dan buka puasa bersama Ramadan 1447 H di Hotel Mercure pada Jumat (27/2/2026)

Momentum tersebut sekaligus diisi dengan penyaluran bantuan sosial melalui program GAPKI Kalbar Peduli kepada panti asuhan dan marbot masjid.

Ketua GAPKI Cabang Kalbar, Aris Supratman, menegaskan peringatan HUT ke-45 bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas peran strategis GAPKI dalam mengawal tata kelola komoditas sawit di Kalimantan Barat.

“Peran strategis GAPKI adalah mengawal tata kelola sawit di Kalbar. Ke depan mari bersama-sama kita lalui tantangan yang semakin dinamis secara bijak,” ujarnya.

Momentum bulan suci ramadan, Aris mengajak seluruh pelaku usaha untuk memaknai bulan suci sebagai wahana meningkatkan disiplin diri, integritas, serta kepedulian sosial.

Baca Juga : Gubernur Ria Norsan Dukung RSUD M.Th. Djaman Sanggau Naik Kelas ke Tipe B

“Ramadan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan empati. Nilai-nilai ini penting untuk diterapkan dalam menjalankan usaha dan tanggung jawab sosial,” ujarnya

Menurutnya, nilai spiritual tersebut relevan untuk memperkuat tata kelola industri sawit yang berkelanjutan dan transparan.

Kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas sektor sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Aris menekankan pentingnya menyikapi dinamika dan pro-kontra terhadap industri sawit secara bijak dan berbasis regulasi.

“Tata kelola dan tata niaga sawit harus berjalan sesuai regulasi agar industri tetap berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya

Dirinya menilai penguatan tata kelola yang baik akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi daerah, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta kepercayaan publik terhadap industri sawit.

Selain isu tata kelola, GAPKI Kalbar juga menyoroti tantangan cuaca panas pada 2026 yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kita harus menyiapkan sarana prasarana penanganan karhutla sejak dini. Ini bagian dari menjaga keberlanjutan industri sekaligus melindungi lingkungan,” ujarnya.

Pada usianya ke-45, GAPKI Kalbar menjadi pengingat bahwa industri sawit tidak hanya berbicara tentang produksi dan ekspor, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui program bantuan sosial dan semangat Ramadan, GAPKI Kalbar berharap kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat semakin kuat dalam menghadapi dinamika sektor sawit ke depan. (*)