KabarKalimantan.id – Sejumlah Petani kelapa di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya mengeluhkan beberapa bulan terakhir mengeluhkan anjloknya harga kelapa bulat.
Harga yang sebelumnya sempat menyentuh Rp5.000 per butir kini turun drastis menjadi sekitar Rp1.100 per butir, kondisi yang dinilai sangat memberatkan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kelapa, Khususnya di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Keluhan tersebut disampaikan Bahtiar, warga Kecamatan Teluk Pakedai. Dirinya berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten segera turun tangan membantu memperjuangkan stabilitas harga kelapa agar petani tidak terus merugi.
Apalagi menurutnya pada Bulan Mei ini panen kelapa dalam jumlah besar akan segera dimulai.
Baca Juga : Tak Kantongi Izin Dasar Pemanfaatan Ruang Laut, KKP Segel Terminal Khusus Milik PT WHW
“Kelapa bulat pernah tembus harga Rp5.000 per biji beberapa bulan lalu. Sekarang tinggal Rp1.100 per bijinya. Kami berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten memperjuangkan harga kelapa,” ujarnya.
Menurut Bahtiar, kondisi saat ini membuat petani kesulitan menutupi biaya produksi, terutama ongkos operasional terutama pemanjat kelapa yang berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per hari.
Dirinya menilai pendapatan petani saat ini hampir tidak memberikan keuntungan karena hasil penjualan kelapa habis untuk biaya operasional di lapangan.
“Kalau harga kelapa anjlok seperti sekarang ini tidak cukup untuk ongkos. Kalau dihitung-hitung, petani itu tidak ada hasilnya karena pendapatan hanya habis untuk biaya pemanjat saja,” katanya.
Bahtiar menyebut banyak masyarakat di Teluk Pakedai sangat bergantung pada komoditas kelapa sebagai sumber penghasilan utama.
Karena itu, ia berharap perhatian serius dari pemerintah daerah, khususnya Gubernur Kalimantan Barat, Bupati Kabupaten Kubu Raya, hingga dinas terkait agar persoalan tersebut dapat segera dicarikan solusi.
“Di Teluk Pakedai penghasilan terbesar masyarakat hanya kelapa. Maka kami berharap Bapak Gubernur, Bupati maupun Dinas Perkebunan dapat memperjuangkan harga kelapa agar kembali stabil seperti sebelumnya,” tuturnya.
Dirinya berharap pemerintah dapat menghadirkan langkah konkret untuk menjaga kestabilan harga komoditas kelapa sehingga para petani tetap dapat bertahan di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit. (*)












