KabarKalimantan.id – Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) resmi mengumumkan pembukaan Program Magang Nasional tahap dua pada November 2025. Langkah ini diambil menyusul tingginya antusiasme masyarakat terhadap tahap pertama yang melampaui target pendaftar.
Sejak pendaftaran tahap pertama dibuka pada 7 Oktober 2025 melalui aplikasi MagangHub, tercatat lebih dari 100 ribu calon peserta telah mendaftar. Angka ini jauh melebihi target awal pemerintah yang hanya menyiapkan 20 ribu peserta.
Selain itu, lebih dari 1.000 perusahaan sudah terdaftar sebagai mitra penerima peserta magang. Hal ini menunjukkan tingginya dukungan dunia usaha terhadap inisiatif pemerintah dalam memperkuat ekosistem pelatihan kerja nasional.
Tahap Dua Libatkan 80 Ribu Peserta Tambahan
“Melihat tingginya minat masyarakat dan perusahaan, pemerintah memutuskan memperluas program ini. Tahap kedua akan melibatkan lebih banyak peserta, termasuk kesempatan magang di instansi dan lembaga negara,” ujar Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Jakarta, Senin (13/10/2025).
Pada tahap pertama, 20 ribu peserta dijadwalkan mulai magang pada 20 Oktober 2025 hingga 19 April 2026. Sementara tahap kedua menargetkan 80 ribu peserta tambahan yang akan memulai masa magang pada pertengahan November 2025.
Peserta Dapat Uang Saku Rp3,3 Juta per Bulan
Setiap peserta akan menerima uang saku maksimal Rp3,3 juta per bulan, setara dengan rata-rata upah minimum di berbagai daerah. Program ini menyasar lulusan baru (fresh graduate) jenjang D3 dan S1, guna memberikan pengalaman kerja praktis sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional.
Kemenaker juga telah menerbitkan surat edaran kepada kepala daerah agar mendorong lebih banyak perusahaan dan lembaga ikut berpartisipasi. Pemerintah menargetkan total 100 ribu peserta magang hingga akhir tahun 2025.
Jembatan Antara Pendidikan dan Dunia Kerja
Program Magang Nasional dirancang sebagai jembatan strategis antara dunia pendidikan dan dunia kerja, dengan tujuan membantu lulusan baru memperoleh keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Dengan dukungan lintas sektor — baik dari pemerintah, perusahaan swasta, maupun lembaga pendidikan — program ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk menekan angka pengangguran lulusan baru serta meningkatkan daya saing tenaga kerja muda Indonesia.












