KabarKalimantan.id – Pemuda Perencana Borneo (Pena Borneo) bersama dengan SMK Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Plus Desa Nusantara (PDN) Kabupaten Sanggau menggagas program edukasi lingkungan betajuk ‘Trash to School’.
Program tersebut dirancang untuk mendorong gerakan memilah sampah di lingkungan sekolah, membentuk unit bank sampah sekolah, dan mengenalkan konsep ekonomi sirkular kepada pelajar. Para pelajar diarahkan untuk tidak melihat sampah sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai bahan yang bisa dikelola, memiliki nilai, dan menjadi bagian dari pembelajaran nyata di sekolah.
Secara simbolis Wakil Bupati Sanggau Susana Harpena meluncurkan program tersebut pada Kamis 16 Oktober 2025 di Hotel Garden Palace.
Wakil Bupati Sanggau Susana Harpena menyampaikan apresiasi SMK PDN bersama seluruh jajarannya yang luar biasa telah berkontribusi membantu program pemerintah dalam menjaga lingkungan hidup. Satu di antara hal terpenting yang perlu terus kita dorong adalah bagaimana gerakan pengelolaan sampah dapat menjadi potensi ekonomi yang berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga dan masyarakat.
“Kita juga perlu mulai mengurangi penggunaan barang-barang berbahan plastik, karena dapat menimbulkan timbunan sampah yang merusak tanah apabila dibuang sembarangan,” ujarnya.
Ia mengatakan jika sampah tersebut dibuang ke sungai, akan menyebabkan penyumbatan aliran air dan mengakibatkan banjir. Sementara jika dibakar, dapat menimbulkan polusi udara yang tentu berpengaruh terhadap kesehatan dan lingkungan.
“Kami dari pemerintah daerah sangat mendukung kolaborasi seperti ini. Kegiatan semacam ini bukan hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga harus menjadi gerakan nyata di lapangan,”
“Para pelajar, organisasi, dan berbagai asosiasi sosial diharapkan dapat terus berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi daerah yang kita cintai bersama,” ujarnya
Founder Pena Borneo Taufik Sirajuddin mengatakan generai muda memiliki peranan penting dalam mendorong perubahan cara pandang dan tindakan terhadap sampah. Keberadaan sampah itu jangan dipandangan masalah, tapi sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan dan nilai tambah.
“Anak muda harus menjadi pelaku utama perubahan. Kami ingin menunjukkan bahwa solusi sampah bisa dimulai dari ruang belajar,” ujarnya.
Dirinya menilai bahwa sekolah menjadi titik awal perubahan perilaku menuju masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
Dalam paparanya, Taufik menyoroti pentingnya membangun sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan terintegrasi dari hulu ke hilir, serta menjadikan sekolah sebagai pintu masuk gerakan ekonomi sirkular di Kabupaten Sanggau.
Pengelolaan sampah harus diwujudkan dengan cara yang bertanggung jawab, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Sekolah menjadi awal sebuah gerakan, karena sekolah adalah pusat pendidikan anak-anak di situlah gerbang perubahan dimulai. Dari ruang kelas, kita menanam kesadaran, dan dari kesadaran itu kita menapaki jalan menuju kelestarian Kabupaten Sanggau,” katanya
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara PENA Borneo dan SMK PDN Kabupaten Sanggau sebagai lokasi implementasi awal program dengan harapan menjadi pionir sekolah hijau yang mampu mengelola sampah sendiri.
“Harapanya kedepan aksi seperti ini dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sanggau,” ujarnya. (*)












