KabarDayak.com — Sebagai salah satu provinsi penghasil karet terbesar di Indonesia, Kalimantan Selatan terus mengembangkan potensi komoditas karetnya sebagai salah satu pilar ekonomi daerah. Dengan upaya pengembangan yang terus dilakukan, sektor karet di provinsi ini menghadapi tantangan serta peluang yang signifikan.
Pengembangan komoditas karet di Kalimantan Selatan telah menjadi fokus utama dalam rangka meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian daerah. Dukungan dari pemerintah provinsi serta berbagai pihak terkait telah memperkuat infrastruktur dan teknologi yang mendukung pertumbuhan sektor karet.
Salah satu aspek penting dalam pengembangan karet adalah peningkatan produktivitas perkebunan. Dengan memperkenalkan varietas unggul, teknik budidaya modern, dan penerapan praktik pertanian berkelanjutan, petani karet di Kalimantan Selatan dapat meningkatkan hasil produksi dan kualitas karet yang dihasilkan.
Selain itu, diversifikasi produk karet juga menjadi strategi yang ditekankan dalam pengembangan sektor ini. Selain karet mentah, produk turunan seperti lateks kering, karet bubuk, dan produk karet lainnya memiliki potensi pasar yang luas baik di dalam negeri maupun di pasar internasional.
Namun, perkembangan sektor karet juga menghadapi tantangan terutama terkait dengan dampak lingkungan. Ekspansi perkebunan karet dapat menyebabkan deforestasi dan degradasi lahan, serta meningkatkan risiko konflik dengan masyarakat adat dan kerusakan ekosistem lokal. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pelaku industri untuk memperhatikan aspek keberlanjutan dalam pengembangan sektor karet.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, langkah-langkah untuk meningkatkan pengelolaan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan perlu ditingkatkan. Penerapan praktik pertanian ramah lingkungan, rehabilitasi lahan terdegradasi, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam menjadi kunci untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan di sektor karet.
Dengan potensi ekonomi yang besar dan tantangan lingkungan yang perlu diatasi, pengembangan komoditas karet di Kalimantan Selatan menjadi cermin bagi upaya memadukan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Diharapkan, upaya bersama dari semua pihak dapat menghasilkan hasil yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua stakeholder yang terlibat.
Strategi Pemerintah Kalimantan Selatan Perluas Kebun Karet
Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan dn mengembangkan komoditas perkebunan karet. Dimana hal tersebut menjadi prioritas utama. Komoditas karet di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan luasan lahan yang bertambah dari 118.773 hektar pada tahun 2020 menjadi 123.776 hektar pada tahun 2023.
Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ence Achmad Rafiddin Rizal, menyampaikan bahwa rata-rata harga karet petani di Kalimantan Timur juga mengalami peningkatan signifikan, mulai dari Rp9.850 pada tahun 2022 menjadi rata-rata Rp10.500 hingga bulan Maret 2024. Halk tersebut disampaikan saat Pertemuan Teknis Pengolahan dan Pemasaran Bokar UPPB dan Petani tahun 2024, yang diselenggarakan di Hotel Harris, Senin 20 Mei 2024 lalu.
“Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan dari 167,4 pada bulan November 2023 menjadi 184,3 pada bulan April 2024,” kata Ence Achmad Rafiddin Rizal.
Rizal menambahkan jika terjadinya peningkatan produksi perkebunan dan harga komoditas berimbas kesejahteraan petani.
“Tantangan terbesar dalam mengembangkan komoditas perkebunan adalah masalah mutu dan harga yang berkaitan erat,” ucap Rizal.
Ia mengatakan solusinya adalah perbaikan mutu dan standar pengolahan panen serta pascapanen untuk menghasilkan produk berkualitas dengan nilai jual yang tinggi.
Sebaliknya, lanjut dia, pengolahan yang kurang memperhatikan standar akan menghasilkan produk yang tidak kompetitif, dengan harga yang ditentukan oleh pelaku usaha lain.
Oleh karena itu, menurutnya, pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan pengolahan komoditas perkebunan menjadi tanggung jawab bersama.
“Pentingnya membangun dan mempertahankan kelembagaan petani secara profesional juga menjadi fokus untuk mengatasi berbagai permasalahan dari hulu hingga hilir,” kata Rizal.












