MENGENAL Tarian Sekapur Sirih Khas Kalimantan Barat

Tarian Penyambutan Khas Melayu Gubahan H Muhammadh Yanis Chaniago

PENDOKUMENTASI - Proses pendokumentasian Tari Sekapur Sirih yang digubah oleh H. Muhammad Yanis Chaniago. Pada perjalananya Tari Sekapur Sirih pernah dipertunjukkan saat menyambut kedatangan Sultan Hamengkubuwono IX, di Pontianak pada 1974.

KabarKalimantan.id – Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, sebuah warisan budaya Kalimantan Barat perlahan diupayakan untuk tidak hilang ditelan majunya zaman. Tari sekapur sirih, karya maestro H. Muhammad Yanis Chaniago, kini mulai didokumentasikan secara utuh sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya takbenda dari Kalimantan Barat

Langkah tersebut dilakukan Mohammad Reza melalui dukungan program dana abadi kebudayaan 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI untuk proses pendokumentasian tarian penyambutan yang dikenal tari sekapur sirih.

Reza mengatakan tari sekapur sirih bukan sekadar tarian penyambutan tamu. Terdapat simbol penghormatan, kesopanan, dan harmoni sosial yang lahir dari konteks multietnis Kalimantan Barat pada era 1970-an.

“Tarian ini pertama kali digubah pada tahun 1974 oleh H. Muhammad Yanis Chaniago dan dipersembahkan untuk menyambut Wakil Presiden RI saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX di Pontianak,” ujar Reza.

Baca Juga : 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, AMSY Usulkan Film Layar Lebar

Ia mengatakan seiring berjalanya waktu, tari sekapur sirih mengalami transformasi. Jika pada awalnya memadukan unsur gerak Melayu dan Dayak, dalam versi gubahan selanjutnya, identitas Melayu diperkuat sebagai bentuk afirmasi budaya, seiring berkembangnya ekspresi seni dari masing-masing etnis.

Namun, di balik nilai historis dan simboliknya yang tinggi, dokumentasi terhadap tari sekapur sirih versi maestro ini masih sangat terbatas.

“Banyak pengetahuan terkait struktur gerak, filosofi, hingga konteks penciptaannya yang hanya diwariskan secara lisan,” katanya

Reza menuturkan kondisi dan latar belakang itu menjadi alasan utama pentingnya dilakukan pendokumentasian secara sistematis.

“Tari sekapur sirih bukan hanya pertunjukan, tetapi arsip hidup tentang sejarah budaya Kalbar. Kalau tidak segera didokumentasikan, ada risiko besar pengetahuan ini hilang bersama para pelaku aslinya,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, program pendokumentasian ini tidak hanya merekam gerak tari, tetapi juga menggali narasi sejarah, makna simbolik, serta transformasi estetik yang terjadi dari masa ke masa.

“Dalam praktiknya, tari sekapur sirih memiliki struktur yang khas. Tarian ini biasanya berdurasi 5 hingga 7 menit dan ditarikan oleh sembilan orang, terdiri dari enam penari perempuan sebagai dayang pembawa bokor, dua perempuan pembawa sirih dan kapur, serta satu laki-laki pembawa payung untuk memayungi tamu kehormatan,” katanya

Gerakan yang ditampilkan seperti sembah, hormat, ngayun, dan tabur menjadi simbol penghormatan kepada tamu. Sementara properti seperti beras kuning, sirih, dan kapur memperkuat makna spiritual dalam tradisi penyambutan masyarakat Melayu.

Bagi Reza, Proses pendokumentasian yang dilakukan bukan sekadar proyek seni pertunjukan, akan tetapi menjadi semangat untuk menjaga identitas, sekaligus menjembatani generasi lama dan baru.

“Ini bentuk warisan masa depan. Selama ini banyak pengetahuan hanya disampaikan dari mulut ke mulut. Kita ingin mengabadikannya dalam bentuk visual dan narasi yang bisa dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujar Reza.

Program Dana Indonesiana yang kini berubah menjadi Dana Indonesia Raya sendiri mendorong pelestarian karya maestro dan objek pemajuan kebudayaan yang rawan punah.

Dalam konteks tari sekapur sirih, Reza menilai bahwa ancaman kepunahan itu nyata, terutama dengan semakin berkurangnya pelaku asli yang memahami secara utuh nilai dan teknik tarian ini.

“Harapannya pendokumentasian dapat menjadi rujukan penting, tidak hanya bagi pelaku seni, tetapi juga dunia pendidikan, penelitian, hingga pengembangan kebudayaan berbasis komunitas,” katanya

Selain itu, upaya pendokumentasian menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan yang harus terus dijaga dan dihidupkan.

“Di Pontianak, Tari Sekapur Sirih tetap ditarikan sebagai bagian dari tradisi penyambutan kegiatan seremonial,” ujarnya

Reza menambahkan langkah dokumentasi yang lebih serius akan membuat tarian sekapur sirih memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam ingatan.

“Harapan besar kami Tarian Sekapur sirih tidak hanya dilihat di panggung pertunjukan, tetapi juga dalam ingatan kolektif generasi mendatang,” pungkasnya. (*)