KabarKalimantan.id — Pelaksanaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kota Bontang tahun ini digelar secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akibat efisiensi anggaran, penyelenggaraan kompetisi hanya mempertandingkan dua cabang olahraga (cabor), yakni pencak silat dan karate, yang dilaksanakan secara daring.
Kepala SMA Negeri 2 Bontang, Suyanik, menjelaskan bahwa penyelenggaraan O2SN kali ini dilakukan tanpa pertandingan langsung. Para peserta diminta mengirimkan rekaman video penampilan mereka untuk dinilai oleh dewan juri.
“Jadi tidak ada tanding langsung. Mereka main tunggal. Peserta hanya mengirimkan melalui video,” kata Suyanik.
Meski demikian, antusiasme pelajar dalam mengikuti ajang ini tetap tinggi. Sejumlah pelajar berhasil meraih prestasi gemilang di dua cabor yang dipertandingkan, yakni pencak silat dan karate.
Untuk cabor pencak silat sektor putra, medali emas diraih oleh Raditya, siswa dari SMA Negeri 1 Bontang. Medali perak disusul oleh rekan satu sekolahnya, Farhan. Sedangkan posisi ketiga diraih oleh Abdul Hakim dari SMA YPK.
Sementara di sektor putri, Kirana Andini dari SMA YPVDP berhasil meraih juara pertama. Juara kedua diraih oleh Adinda Nur Shafira dari SMA Negeri 2, dan medali perunggu menjadi milik Ismah Aliyah Idrus dari SMA Negeri 1.
Dominasi SMA YPK terlihat jelas di cabor karate. Untuk sektor putra, medali emas direbut oleh Nakayama Ghozzie. Prestasi tersebut dilengkapi dengan perolehan medali perak oleh Rayhan Ahsan, juga dari SMA YPK. Sementara peringkat ketiga ditempati oleh Muh Zaki dari SMA Negeri 3.
Di sektor putri, Hana Ayu Renggani dari SMA YPK berhasil meraih medali emas. Azizah Mudita Nadin dari SMA YPVDP menyusul di posisi kedua, dan Qaishum Rezky dari SMA Negeri 3 menyabet posisi ketiga.
Menurut Suyanik, keterbatasan anggaran menyebabkan berkurangnya jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan tahun ini. Padahal tahun sebelumnya, O2SN Bontang juga menggelar kejuaraan atletik pancalomba, renang, dan bulutangkis.
“Dulu cabornya lebih banyak. Tapi sekarang hanya karate dan pencak silat. Bahkan di karate hanya digelar dua kelas, yakni komite dan kata,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, meski dilaksanakan secara online, proses penilaian tetap berjalan objektif. Juri menilai gerakan para peserta dari video yang dikirimkan. Penilaian mencakup teknik, kekuatan, keluwesan gerak, dan ekspresi.
“Juri hanya menilai gerakan dari video yang dikirimkan. Penilaian tetap objektif meski tidak dilakukan tatap muka,” tambahnya.
Kendati demikian, pelaksanaan O2SN secara daring ini dinilai tetap memberikan wadah bagi siswa untuk mengembangkan bakat olahraga mereka, serta tetap menjaga semangat kompetisi di tengah keterbatasan.
Dengan hasil ini, para juara dari masing-masing cabang di tingkat kota akan berpeluang untuk mewakili Bontang dalam seleksi O2SN tingkat provinsi. Suyanik berharap tahun depan jumlah cabor bisa kembali ditambah, agar makin banyak siswa yang bisa menunjukkan prestasi di bidang olahraga.












