Kalbar  

Konferensi Islam Borneo: Menggagas Sinergi Akademis dan Keagamaan di Pontianak

Pontianak Sambut Delegasi Konferensi Antarbangsa Islam Borneo (KAIB)

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, sambut Delegasi | Konferensi Islam Borneo: Menggagas Sinergi Akademis dan Keagamaan di Pontianak. (FOTO: ISTIMEWA)

KabarKalimantan.id – Kota Pontianak, yang dikenal sebagai Kota Khatulistiwa, kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai tuan rumah acara berskala internasional. Kali ini, kota tersebut menjadi pusat pertemuan para akademisi, ulama, dan praktisi dari berbagai negara melalui Konferensi Antarbangsa Islam Borneo (KAIB) XVI Tahun 2025. Perhelatan bergengsi ini diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.

Wali Kota Pontianak: Dari Kulminasi Matahari Hingga Kota Seribu Warung Kopi

Dalam sambutannya di malam ramah tamah yang digelar di Rumah Jabatan Wali Kota, Edi Rusdi Kamtono menyambut hangat seluruh delegasi. Ia memperkenalkan keunikan geografis dan budaya Pontianak yang beragam.

“Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, matahari tepat berada di atas kota ini, sebuah fenomena yang kami rayakan dengan Festival Kulminasi,” ujar Edi.

Edi juga menyoroti Pontianak sebagai kota heterogen dengan populasi hampir 700 ribu jiwa. Mayoritas penduduknya beragama Islam, namun hidup berdampingan dengan damai bersama penganut agama lain.

Ia menambahkan, Pontianak juga dijuluki “Kota Seribu Warung Kopi,” mencerminkan budaya interaksi sosial yang kuat di tengah masyarakatnya.

Peran Konsorsium Perguruan Tinggi dan Harapan Keberlanjutan

Antusiasme juga datang dari para delegasi, salah satunya Rektor Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Sarawak, Firdaus Abdullah.

Ia menyampaikan rasa gembira karena rombongan dari Sarawak menjadi delegasi terbanyak yang hadir, menegaskan komitmen mereka sejak forum ini pertama kali digagas.

“Forum ini sudah berlangsung 16 kali, bahkan 18 kali jika dihitung dengan dua kali penyelenggaraan hybrid selama pandemi,” ungkap Firdaus.

Ia menekankan pentingnya tindak lanjut dari setiap resolusi yang dihasilkan. “Setiap resolusi harus dipastikan ditindaklanjuti agar forum ini tidak hanya sebatas diskusi, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Memperkuat Jaringan dan Isu Keislaman di Borneo

Rektor IAIN Pontianak, Syarif, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. Ia menyebut KAIB XVI mempertemukan 11 perguruan tinggi mitra dari berbagai negara di kawasan Borneo, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, bahkan Jerman.

“Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kerja sama akademik, memperluas jaringan, dan membahas isu-isu keislaman serta kebangsaan di Borneo,” pungkas Syarif.

Kehadiran delegasi dari berbagai institusi, termasuk Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) dari Brunei Darussalam dan perwakilan UiTM dari Malaysia, menunjukkan skala dan pentingnya forum ini dalam mempererat hubungan akademis di kawasan.

Dengan tema-tema yang relevan, diharapkan KAIB XVI dapat menghasilkan terobosan dan solusi yang konstruktif bagi kemajuan umat dan bangsa.