KabarKalimantan.id – Sebanyak 20 siswa dan 1 guru di SD Negeri 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, diduga mengalami gejala keracunan pada Selasa (23/9) lalu, setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kejadian ini menarik perhatian publik, mengingat program tersebut merupakan inisiatif nasional. Namun, pihak Yayasan Adinda Karunia Ilahi, yang bermitra dengan dapur pemasok makanan, memberikan klarifikasi untuk meluruskan informasi yang beredar.
Pihak Yayasan Ungkap Fakta dan Kejanggalan
Hefni Maulana, pengelola Yayasan Adinda Karunia Ilahi, pada Rabu (24/9) di Pontianak, menjelaskan sejumlah poin penting terkait kasus ini. Menurutnya, ada beberapa kejanggalan yang perlu disoroti.
“Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada guru yang ikut dilaporkan terdampak, padahal jatah makanan hanya khusus siswa,” kata Hefni.
Ia menambahkan bahwa paket MBG seharusnya hanya diperuntukkan bagi siswa sesuai jumlah penerima manfaat yang tercatat di sekolah, bukan untuk guru.
Hasil Uji Laboratorium Sementara Tidak Temukan Zat Berbahaya
Hefni juga mengungkapkan bahwa dari 20 sekolah di Kecamatan Benua Kayong yang menerima program MBG dari dapur yang sama, hanya SD Negeri 12 yang mengalami insiden ini.
“Kalau makanan benar-benar beracun, seharusnya semua sekolah terdampak, karena dapurnya sama, alat masaknya sama, bahan yang dipakai juga sama. Faktanya, sekolah lain aman, tidak ada gejala serupa,” tegasnya.
Untuk memastikan keamanan makanan, pihaknya telah melakukan uji laboratorium sementara terhadap sampel makanan yang diambil dari dapur maupun dari sekolah. Hasilnya, tidak ditemukan kandungan berbahaya. Meski demikian, mereka masih menanti surat resmi dari Dinas Kesehatan dan BPOM sebagai hasil akhir.
Imbauan untuk Tidak Terburu-buru Menyimpulkan
Menanggapi narasi yang berkembang di media, Hefni meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa makanan tersebut beracun.
“Kami mohon masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan makanan ini beracun sebelum ada bukti resmi. Narasi yang berkembang di media berawal dari pernyataan pihak sekolah yang menyebut makanan beracun, padahal hasil uji lab belum keluar,” jelasnya.
Ia menyebut, menu yang disajikan saat itu adalah ikan fillet, sayur, dan nasi, yang telah disusun oleh ahli gizi sesuai standar kalori dan gizi siswa.
Tindakan Lanjutan dan Harapan untuk Program
Sebagai bentuk tanggung jawab, dapur mitra untuk sementara dinonaktifkan sambil menunggu hasil resmi investigasi. Pihak yayasan melaporkan bahwa sebagian besar siswa yang sebelumnya mendapat perawatan kini sudah pulih dan pulang ke rumah, dengan hanya tersisa tiga orang yang masih dalam pendampingan.
“Program ini sangat bermanfaat bagi siswa dan masyarakat, sehingga harus terus diawasi, bukan dihentikan,” pungkas Hefni.
Ia berharap tidak ada pihak yang mencoba mendiskreditkan program nasional ini atau melakukan penggiringan opini yang keliru. Yayasan akan terus melakukan evaluasi demi keberlanjutan program yang baru berjalan sekitar satu minggu di wilayah Benua Kayong ini.












