KabarKalimantan.id – Kondisi ruas jalan di lokasi yang dikenal sebagai “Bukit Biru” di jalur Sintang-Putussibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menjadi sorotan utama dalam kunjungan kerja Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus. Ruas jalan menanjak yang ekstrem ini dilaporkan tidak hanya menghambat kelancaran logistik, tetapi juga telah berulang kali memakan korban jiwa.
Lasarus secara tegas meminta perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang mendampinginya untuk segera mengkaji dan mencari solusi permanen bagi permasalahan Bukit Biru.
Lasarus, yang merupakan Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) setempat, mengungkapkan bahwa Bukit Biru telah menjadi momok bagi para sopir, terutama truk pengangkut muatan berat. Tingginya kemiringan tanjakan membuat truk muatan tidak mampu naik secara langsung.
“Setahu saya, mobil muatan enggak ada yang berani naik langsung di sini. Begitu sampai di sini, berhenti. Kemudian dia nunggu truk kosong dulu, kalau ada truk kosong baru truk kosong itu yang tarik,” ujar Lasarus, menggambarkan situasi sehari-hari di lokasi.
Ia khawatir, kondisi jalan yang tidak kunjung diperbaiki akan terus mengganggu arus lalu lintas logistik, membuat pengiriman barang terlambat, dan pada akhirnya menyebabkan harga kebutuhan menjadi lebih mahal.
Kekhawatiran utama Lasarus adalah potensi kecelakaan fatal. Menurutnya, jika sopir truk nekad mencoba naik tanpa bantuan (berjudi naik), risikonya sangat besar.
“Saya takutnya dia berjudi naik, bukannya ke sana, mobilnya malah kembali ke bawah sana atau ke seberang sana atau ke jurang di sebelah, dan kejadian sudah banyak makan korban di bukit ini, Pak. Sampai meninggal dunia,” jelasnya.
Selain risiko terperosok ke jurang, bahaya juga mengintai pengguna jalan lain jika truk yang gagal menanjak mundur dan menabrak orang di belakangnya. “Macam-macam kejadiannya sudah di sini,” imbuhnya.
Keluhan ini diperkuat oleh pengakuan Abi, seorang sopir truk yang sering melintasi jalur tersebut. Abi menjelaskan bahwa truk dengan muatan standar logistik, sekitar 10 hingga 11 ton ke atas, masih sulit melewati tanjakan ekstrem ini.
“Kalau bisa diusahakan dipotong (diratakan) dipotong, maklumlah kita kalau muatan hanya bawa 9 ton, 8 ton kan enggak masuk, enggak bisa,” kata Abi.
Abi menegaskan bahwa untuk muatan berat, prinsipnya truk wajib ditarik oleh truk kosong lain baru bisa lolos. Jika tidak, sopir terpaksa menginap semalaman menunggu bantuan. “Ini enggak bisa langsung,” tandasnya.
Melihat urgensi dan bahaya yang ditimbulkan, Lasarus secara resmi meminta pihak Kementerian PUPR untuk mengambil tindakan segera.
“Bukit Biru ini bukan hanya menyulitkan pengemudi yang membawa muatan tapi juga sering memakan korban. Saya minta agar perwakilan Kementerian PU yang turut serta mendampingi Kunjungan Kerja saya ke Kapuas Hulu agar segera mengkaji dan mencari solusi. Sesegera mungkin,” tegasnya.
Lasarus berharap evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jalan dapat dilakukan dan penanganan infrastruktur di Bukit Biru segera diimplementasikan untuk menjamin keselamatan dan kelancaran jalur logistik di Kapuas Hulu.







