Kalbar  

KAHMI Pontianak Soroti Kesiapsiagaan Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana saat Cuaca Ekstrem

KAHMI - Ketua MD Kahmi Kota Pontianak Isnadi SE

KabarKalimantan.id – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Pontianak menyampaikan keprihatinan mendalam terkait meningkatnya ancaman banjir rob ekstrem yang berpotensi melanda kawasan pesisir dan bantaran sungai di Kota Pontianak dalam beberapa pekan ke depan.

Seruan itu disampaikan Ketua Umum MD KAHMI Kota Pontianak, Isnadi, setelah mencermati perkembangan situasi hidrometeorologi dan laporan resmi dari sejumlah lembaga pemerintah.

Dalam pernyataannya, Isnadi menegaskan bahwa potensi banjir rob tidak lagi dapat dianggap sebagai fenomena musiman biasa. Perubahan iklim, penurunan muka tanah, dan intensitas pasang air laut yang semakin ekstrem menjadikan risiko bencana semakin serius.

“Pontianak berada di garis depan krisis iklim. Kita menghadapi kenaikan permukaan air laut dan siklus pasang yang semakin tidak terduga. Masyarakat harus disiapkan, pemerintah harus responsif, dan mitigasi harus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.

Baca Juga : Bocah Tenggelam di Parit Tokaya Saat Air Pasang, Wako Edi Kamtono Sampaikan Rasa Duka Mendalam

Isnadi menekankan bahwa banjir rob kini berpotensi berdampak pada wilayah yang lebih luas, termasuk permukiman padat penduduk di bantaran Sungai Kapuas dan Landak. Ia mengingatkan perlunya sistem peringatan dini yang terintegrasi, koordinasi lintas lembaga, serta edukasi publik untuk memperkuat kesiapsiagaan warga.

Kondisi Terkini dan Ancaman Rob Ekstrem

Pontianak tercatat mengalami peningkatan tinggi muka air di beberapa titik dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan lapangan, genangan mulai terjadi di sejumlah kawasan pesisir sungai, terutama pada jam-jam pasang puncak. Wilayah seperti Benua Melayu Laut, Saigon, Banjar Serasan, dan sebagian Pontianak Timur masuk dalam zona yang paling berpotensi terdampak.

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi pasang maksimum dipicu fase bulan purnama dan anomali suhu permukaan laut. Sementara itu, BPBD Kalimantan Barat mencatat bahwa kawasan hilir Sungai Kapuas berada pada status Siaga, mengingat tren kenaikan permukaan air yang berlangsung sejak awal bulan.

Secara ilmiah, siklus pasang-surut Pontianak sangat dipengaruhi intensitas pasang besar Samudra Pasifik dan Laut Natuna, sehingga rob ekstrem dapat terjadi tanpa didahului curah hujan tinggi.

Dampak Sosial dan Lingkungan

Banjir rob berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi, kerusakan fasilitas umum, gangguan sanitasi, dan meningkatnya risiko penyakit berbasis air. Rumah-rumah di tepian sungai yang umumnya dibangun rendah dan berbahan kayu menjadi kelompok paling rentan. Selain itu, aktivitas ekonomi warga pesisir—mulai dari perdagangan, perikanan, hingga jasa transportasi air—terancam terganggu.

“Risiko kesehatan juga tidak kecil. Air rob yang bercampur limbah domestik dapat menimbulkan penyakit kulit, diare, hingga leptospirosis. Ini harus diantisipasi,” kata Isnadi.

Rekomendasi MD KAHMI Kota Pontianak

KAHMI mendorong langkah strategis berikut:
1. Penguatan sistem peringatan dini berbasis data dari BMKG, BPBD, dan pos pantau air sungai.
2. Penyiapan jalur evakuasi aman di kelurahan-kelurahan rawan genangan.
3. Edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana secara berkelanjutan.
4. Koordinasi cepat antara kecamatan, kelurahan, dan aparat pemantau sungai untuk menghindari keterlambatan respons.
5. Penyediaan titik-titik evakuasi sementara yang layak dan mudah dijangkau.

“Bencana bukan hanya urusan negara, tapi urusan kita semua. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab kolektif,” tegas Isnadi. (*)