KabarKalimantan.id — Kota Pontianak tak pernah kehabisan cerita tentang keragaman dan potensi wisata. Namun, di balik geliat pembangunan yang berpusat di beberapa kawasan, muncul suara-suara lirih dari sudut lain kota yang merasa dianaktirikan. Herfin Yulianto, seorang pegiat sosial dan pariwisata, menyoroti minimnya perhatian pemerintah terhadap potensi wisata di Kecamatan Pontianak Barat.
Herfin, yang dikenal lewat perannya mengelola destinasi wisata Pecinan di Gang Gajah Mada 9 dan menulis buku “Landscape Musik Tionghoa Pontianak,” kini memfokuskan kegiatannya di kampung halamannya. Melalui hobinya bersepeda sekaligus menjalankan bisnis rental sepeda, ia menjelajahi dan mendalami setiap sudut Pontianak Barat untuk menemukan potensi yang dapat dikembangkan.
Warga Pontianak Barat Merasa Ditinggal: Pembangunan Terpusat di Kecamatan Lain
Dalam sebuah wawancara, Herfin menyampaikan aspirasi warga yang merasa iri dengan kemajuan pesat di kecamatan lain. “Kenapa di tempat kita ini sungainya tidak seperti di Korem (Taman Alun-alun Kapuas)? Seperti di Kampung Tambelan Sampit itu?” ujar Herfin, menirukan curhatan warga Jeruju yang ia temui.
Menurutnya, banyak spot-spot alami dan buatan yang menarik di pinggir Sungai Kapuas Pontianak Barat. Namun, spot-spot buatan tersebut lahir dari kreativitas mandiri masyarakat tanpa campur tangan pemerintah. Hal ini membuat potensi yang ada tidak terpublikasi dengan baik dan hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Potensi Tersembunyi: Dari Spot Mancing Hingga Pusat Lelong
Herfin menuturkan bahwa Pontianak Barat memiliki banyak spot mancing menarik di balik gang-gang kecil yang tersembunyi. Keindahan pemandangan dengan lalu-lalang sampan tradisional sering kali dimanfaatkan oleh warga yang menyewa sampan untuk mencari spot memancing terbaik.
Selain itu, kecamatan ini juga kaya akan potensi kuliner kampung yang otentik dan memiliki pusat perdagangan pakaian bekas impor (lelong) yang telah lama menjadi denyut nadi ekonomi lokal, namun belum pernah terangkat ke permukaan sebagai daya tarik wisata.
Harapan untuk Masa Depan: “Kampung Kite” yang Tak Kalah Gaung
“Saya iri, tapi ini pendapat pribadi saya selaku masyarakat Pontianak Barat,” tegas Herfin. Ia berharap pemerintah menaruh perhatian lebih pada kecamatan yang ia sebut “Kampung Kite” ini. Herfin menekankan pentingnya ruang publik yang tak hanya terbatas pada pembangunan waterfront semata. Banyak ruang lain yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk memajukan kecamatan ini.
Herfin juga menambahkan, peran pemerintah sebagai motor publikasi sangatlah krusial. Dengan menggelar berbagai kegiatan atau festival, gaung Pontianak Barat diharapkan bisa setara dengan kecamatan lain. “Kita ingin Pontianak Barat ini coba disamakan gaungnya dengan kecamatan lain dalam hal publikasi, pembangunan, dan sebagainya,” pungkas Herfin, menutup wawancara dengan harapan agar kampung halamannya tak lagi terlupakan.







