Kabarkalimantan.id — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), Kalimantan Timur, telah memulai proyek pembangunan irigasi di lahan bekas tambang dengan memanfaatkan void yang mirip danau luas. Tujuan dari pembangunan irigasi ini adalah untuk mengalirkan air ke lahan pertanian, sehingga dapat mendukung keberlanjutan produksi pangan di daerah tersebut dan membantu mewujudkan Kukar sebagai lumbung pangan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Dengan cara ini, Pemkab Kukar berharap dapat meningkatkan ketersediaan air untuk pertanian dan memperbaiki hasil produksi pangan di daerah tersebut.
“Irigasi ini penting untuk mempertahankan Kukar sebagai lumbung pangan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), sekaligus untuk meningkatkan produksi padi, meski saat ini produksi padi di Kukar masih yang terbanyak di Kaltim,” ujar Bupati Kukar, Edi Damansyah, di Tenggarong pada Jum’at (10/01). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan irigasi ini menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang Pemkab Kukar untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Sebagai daerah dengan produksi padi terbesar di Kaltim, Kabupaten Kukar memiliki peran strategis dalam menciptakan ketahanan pangan di provinsi ini.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Provinsi Kaltim pada tahun 2023 tercatat sebanyak 226.972 ton gabah kering giling (GKG). Dari jumlah tersebut, Kabupaten Kukar berkontribusi dengan jumlah produksi yang signifikan, yaitu 115.103 ton GKG, yang membuatnya menjadi penghasil padi terbanyak di provinsi ini. Sisanya, sebanyak 111.868 ton GKG, berasal dari sembilan kabupaten/kota lainnya di Kaltim. Angka ini menunjukkan bahwa Kukar memiliki kontribusi yang besar dalam penyediaan pangan di Kaltim, dan menjadi salah satu pilar utama bagi ketahanan pangan di wilayah ini.
Sementara itu, untuk tahun 2024, meskipun data produksi padi di Kaltim masih dalam tahap perhitungan oleh BPS, proyeksi produksi padi di provinsi ini diperkirakan mencapai 229.280 ton GKG, yang menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, produksi padi di Kukar diperkirakan tetap mendominasi dengan kontribusi sebesar 42 persen atau sekitar 96.297 ton GKG. Kabupaten Penajam Paser Utara menempati posisi kedua dengan kontribusi 19,72 persen atau 45.214 ton GKG, diikuti oleh Kabupaten Paser dengan kontribusi 19,44 persen atau 44.572 ton GKG.
Bupati Kukar, Edi Damansyah, dalam kunjungannya ke lokasi void pada Selasa pekan ini, menegaskan bahwa pembangunan irigasi pertanian yang dilakukan dengan kolaborasi bersama perusahaan tambang ini harus terus dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat, terutama bagi para petani. Dengan adanya irigasi yang memadai, diharapkan dapat meningkatkan produksi padi dan pertanian lainnya, yang pada gilirannya akan mendukung ketahanan pangan di Kukar dan memberikan manfaat bagi perekonomian daerah.
Pembangunan irigasi di lahan eks tambang ini dilakukan di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang. Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar sudah membuat saluran air pada tahun 2024, namun masih ada beberapa bagian yang perlu dilengkapi, seperti konstruksi irigasi dan pembuatan pintu air agar aliran air bisa dikontrol dengan baik. “Besar harapan kami, adanya saluran irigasi ini, maka produksi pertanian bisa meningkat guna mendukung ketahanan pangan dan menjadikan Kukar sebagai lumbung pangan. Bahkan yang utama adalah kesejahteraan petani bisa meningkat seiring dengan naiknya produksi,” kata Bupati Edi.
Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, menambahkan bahwa panjang irigasi yang dibangun mencapai 1,3 kilometer. Saat ini, jalur aliran air sudah dibuat, dan fokus selanjutnya adalah penguatan konstruksi agar air bisa mengalir dengan lancar. Selain itu, pintu air juga akan dipasang untuk memantau penggunaan air dan memastikan distribusi air berjalan dengan efisien. “Dinas PU telah membuat jalur aliran air, nanti PT BBE akan menyelesaikan konstruksinya, karena masalah utama yang dihadapi masyarakat adalah sumber air. Sementara di Bangun Rejo ada void luas dan banyak air, sehingga void ini bisa digunakan masyarakat untuk mengairi kawasan pertanian,” ujar Wiyono.
Keberadaan irigasi ini diharapkan dapat mengatasi masalah kekurangan air di lahan pertanian, terutama di musim kemarau, dan memperbaiki produktivitas pertanian di kawasan tersebut. Dengan adanya aliran air yang terkontrol, diharapkan hasil pertanian, khususnya padi, akan meningkat dan Kukar dapat terus mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan di Kalimantan Timur. Pembangunan irigasi ini juga menjadi contoh bagaimana lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.












