Oleh: Andi Misralena Patadjai, SKM (Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya)
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Provinsi Kalimantan Barat telah menjadi siklus bencana ekologis berulang yang tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan dan perekonomian, tetapi juga dapat meneyebabkan krisis kesehatan masyarakat yang serius, dan hal ini akan menjadi beban kesehatan ke depan pasca Kahutla ini.
Dari sudut pandang epidemiologi, asap pekat yang terjadi dari hasil pembakaran biomassa gambut dan hutan mengandung berbagai polutan berbahaya yang memicu peningkatan morbiditas (kesakitan) hingga mortalitas (kematian) secara signifikan jika tidak dilakukan langkah – langkah strategik di bidang kesehatan .
Secara Epidemiolog bencana Kahutla ini ada beberpa hal yang akan menjadi sebuah kajian terkait pola sebaran polutan, jenis ancaman penyakit, kelompok rentan, serta strategi intervensi kesehatan masyarakat yang krusial dalam menghadapi wabah asap akibat Karhutla di Kalimantan Barat.
Secara Analisis Epidemiologi tentunya memberikan gambaran Spektrum Ancaman Penyakit
Ada polutan udara yang berbahaya dari kahutla tersebut seperti Partikulat Matter (PM2.5 ; PM10), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan ozon permukaan yang selama musim Karhutla berdampak langsung pada sistem pernapasan, kardiovaskular, dan pertahanan tubuh manusia. Dan dari data pemantauan tren kesehatan di wilayah terdampak, beberapa manifestasi klinis yang mendominasi yang meliputi:
– Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Menjadi kasus dengan insidensi tertinggi. Partikel mikro masuk hingga ke alveoli paru-paru, memicu inflamasi akut, penurunan fungsi paru, dan memperparah gejala asma serta PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
– Iritasi Mata dan Kulit (Konjungtivitis): Kontak langsung gas sisa pembakaran dengan mukosa mata menyebabkan mata perih, merah, dan berair, yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas kerja harian.
– Penyakit Kardiovaskular: Paparan PM2.5 dalam jangka pendek maupun panjang dapat masuk ke dalam aliran darah, memicu vasokonstriksi pembuluh darah, meningkatkan kekentalan darah, serta memicu serangan jantung mendadak dan stroke pada pasien hipertensi atau riwayat jantung.
– Dampak Kesehatan Mental (Psikososial): Asap tebal yang membatasi ruang gerak, kecemasan akan ancaman penyakit, serta gangguan ekonomi memicu stres kronis dan kecemasan bagi masyarakat terdampak.
Kelompok Rentan (Vulnerable Groups) yang terancam dari kahutla :
Dalam analisis epidemiologi deskriptif, dampak kesehatan akibat Karhutla tidak didistribusikan secara merata. Kelompok berikut memiliki risiko relatif (relative risk) yang jauh lebih tinggi terhadap perburukan kondisi kesehatan:
1. Anak-anak (Usia Balita): Sistem imun dan saluran pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan, serta frekuensi respirasi yang lebih tinggi membuat mereka lebih banyak menghirup polutan per unit berat badan.
2. Lansia (Kelompok Usia Lanjut): Penurunan fungsi fisiologis organ tubuh serta tingginya prevalensi penyakit penyerta (komorbid) kronis mempercepat timbulnya komplikasi berat akibat paparan asap.
3. Pekerja Luar Ruangan (Outdoor Workers): Petani, buruh bangunan, nelayan, serta petugas pemadam Karhutla yang terpapar asap secara langsung dalam durasi panjang tanpa perlindungan alat pelindung diri (APD) yang memadai.
4. Penderita Riwayat Penyakit Pernapasan dan Jantung Kronis: Paparan polusi bertindak sebagai trigger (pemicu) utama eksaserbasi akut yang sering kali berujung pada lonjakan kunjungan IGD (Instalasi Gawat Darurat) fasilitas kesehatan.
Tantangan dan Pengendalian dan Penanggulangan kesehatan dari Kahutla.
Kajian epidemiologi lapangan menunjukkan bahwa penanganan dampak kesehatan Karhutla sering kali menemui tantangan struktural, di antaranya:
– Keterlambatan Deteksi Dini: Sistem kewaspadaan dini berbasis indikator lingkungan dan kesehatan kadang kala responsif terhadap kejadian darurat, namun pencegahan preventif tingkat primer masih memerlukan penguatan lintas sektor.
– Kepatuhan Penggunaan Masker: Kesadaran masyarakat dalam menggunakan masker standar medis/partikulat (seperti N95) saat indeks standar pencemaran udara (ISPU) berada di level berbahaya masih fluktuatif.
– Kapasitas Fasilitas Kesehatan: Lonjakan kasus ISPA secara masif dalam waktu bersamaan berpotensi membebani kapasitas pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas).
Rekomendasi Strategi Intervensi Kesehatan Masyarakat
Untuk meminimalisir dampak buruk Karhutla terhadap derajat kesehatan masyarakat Kalimantan Barat, dilakukan pendekatan berbasis bukti (evidence-based public health) mutlak dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1. Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD): Mengintegrasikan data pemantauan Rumah Sakit) untuk menetapkan status tanggap darurat kesehatan secara cepat.
2. Penyediaan Posko Sehat dan Distribusi Logistik: Membuka posko kesehatan siaga yang tepat sasaran bagi kelompok rentan.
3. Edukasi dan Komunikasi Risiko (Risk Communication): Mengoptimalkan sosialisasi aktif kepada masyarakat agar membatasi aktivitas luar ruangan, menutup ventilasi mengalami gejala sesak napas.
4. Kolaborasi Lintas Sektor: Penanganan kesehatan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, melainkan harus bersinergi dengan penegakan hukum tata kelola lahan, pengendalian titik api (hotspot), serta mitigasi perubahan iklim secara holistik.
Pada akhirnya, kahutla di Kalimantan Barat tidak bisa lagi dipandang sebagai bencana ekologis musiman. Tetapi dari kacamata epidemiologi, kahutla adalah bencana kesehatan masyarakat yang berjalan lambat (slow onset disaster) dengan dampak yang jauh melampaui asap yang kasat mata.
Data epidemiologi menunjukkan pola yang konsisten setiap tahun: lonjakan kasus ISPA, asma, iritasi mata, hingga peningkatan kunjungan puskesmas saat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di level tidak sehat.
Oleh karena itu, pendekatan penanggulangan kahutla harus bergeser dari yang bersifat reaktif-pemadaman menuju paradigma pencegahan berbasis kesehatan masyarakat. Dibutuhkan satu data terpadu antara data hotspot, data kualitas udara, dan data surveilans kesehatan di Dinas Kesehatan.
Dibutuhkan juga peta kerentanan epidemiologi, bukan hanya peta rawan api. Kita tidak bisa mencegah angin membawa asap, tetapi kita bisa mencegah kebijakan yang berbasis terhadap kesehatan rakyatnya.
Kita tidak boleh lalai menakar dampak kesehatan, agar kemudian hari tidak menuai krisis kesehatan yang jauh lebih mahal harganya. Sudah saatnya Kalbar bernapas lega, bukan sekadar bebas api.














