KabarKalimantan.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Peramas, Kabupaten Kayong Utara, mulai mengancam permukiman warga. Kobaran api dilaporkan telah menuruni lereng bukit dan berada sekitar 200 meter dari rumah-rumah warga, sementara lebih dari 500 rumah berada dalam radius yang berpotensi terdampak apabila kebakaran terus meluas.
Menghadapi kondisi tersebut, 20 personel Relawan Anti Api dan Anti Asap Kabupaten Kayong Utara diterjunkan bersama masyarakat untuk melakukan pemadaman di Dusun Tanjung Belimbing dan Dusun Sungai Mengkuang sejak Rabu (16/9/2026).
Koordinator Tim Anti Api dan Anti Asap yang juga Pegiat Gemawan, Weli Arma, mengatakan keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam operasi pemadaman.
“Relawan bekerja atas dasar kepedulian dan semangat kemanusiaan. Keselamatan warga yang diutamakan, perlindungan hutan, dan pencegahan kabut asap menjadi tujuan utama kami,” ujar Weli.
Baca Juga : Hadapi Potensi Dampak Karhutla, CMI Siapkan Ribuan Dukungan Kesehatan bagi Masyarakat
Selain memadamkan api, relawan juga membangun garis pengamanan dan melakukan patroli intensif untuk mencegah rambatan kebakaran masuk ke kawasan permukiman.
Namun upaya tersebut menghadapi sejumlah kendala. Medan yang terjal dan berbukit, keterbatasan sumber air, serta kurangnya panjang selang pemadam membuat sejumlah titik api sulit dijangkau.
Pemadaman dilakukan menggunakan mesin pompa air dengan kemampuan operasional sekitar dua jam.
Menurut Weli, karakteristik vegetasi di kawasan tersebut turut mempercepat penyebaran api. Bambu-bambu kering yang terbakar menghasilkan panas tinggi dan membuat api cepat merambat ke area sekitarnya.
Kondisi itu diperparah oleh cuaca kering. Relawan mencatat hujan belum turun secara signifikan di wilayah tersebut selama kurang lebih tiga bulan terakhir.
Di sejumlah titik, kebakaran juga menyebabkan pohon tumbang sehingga meningkatkan risiko bagi relawan yang bekerja di lapangan.
Kebakaran di Gunung Peramas menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Palung yang memiliki nilai ekologis penting.
Sebelumnya, Tim Anti Api dan Anti Asap juga terlibat dalam pemadaman kebakaran di kawasan gambut Pulau Maya.
Relawan yang tersebar di Kecamatan Pulau Maya, Teluk Batang, dan Simpang Hilir selama ini bergerak secara sukarela membantu pemadaman sekaligus melindungi masyarakat dari dampak karhutla dan kabut asap.
Sejumlah pihak dan donatur telah memberikan dukungan berupa bahan bakar, logistik lapangan, dan peralatan pendukung. Namun kebutuhan tambahan masih diperlukan agar proses pemadaman dapat berjalan lebih efektif.
“Dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran dapat berjalan lebih efektif,” kata Weli.
Ia menegaskan penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau relawan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keselamatan warga sekaligus melindungi kawasan hutan di Kayong Utara. (*)














