KabarKalimantan.id — Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur menggelar Forum Kepariwisataan Pelestarian Busana Adat Kutai sebagai Warisan Budaya Nusantara. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, (22/6) di Hotel Bumi Senyiur Samarinda.
Baju adat kutai yang mampu dilestarikan hingga saat ini adalah baju miskat dan baju taqwo serta dalam perkembangannya baju miskat banyak dipergunakan masyarakat dalam kegiatan harian padahal baju tersebut sejarahnya dipergunakan pada upacara adat khusus.
Demikian pula dengan baju taqwo banyak dipergunakan pada acara-acara seremoni diluar upacara adat khusus, oleh sebab itu untuk mengingatkan dan memberikan pemahaman kembali kepada masyarakat tentang fungsi pengunaan baju miskat dan baju taqwo menjadi tanggung jawab moral sebagai bagian masyarakat Kaltim dengan mengetahui makna dan filosofi baju adat tersebut.
Sekdis Pariwisata Kaltim, Yekti Utami mengatakan, selain baju adat ada beberapa model baju lainnya yang khusus dan perlu disosialisasikan ke masyarakat seperti baju pengantin, “Karena di Kaltim sudah menjadi metropolitan seperti Kutai, Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Minang, Toraja, Buton dan lainnya,” ungkap Yekti.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan warisan budaya Kutai dapat mengenalkan kembali khususnya kepada para generasi muda bahwa kaltim dari dulu memiliki keanekaragaman budaya yang patut menjadi kebanggaan ditengah kehidupan masyarakat.
Dalam diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, yaitu Akademisi antara lain, Aji Qamara Hakim, Budayawan Syafruddin Pernyata, Praktisi Budaya Adat Kesultanan Kutai dari Yayasan Sangkoh Piatu Kutai Hj. Aji Siti Sahrah Bagendondari dan Hj. Aji Ani Tiorda Porger, Kabid. Pemasaran Dispar Kaltim Restiawan Baihaqi, Ketua DPD IPPRISIA Kaltim Marliana Wahyuningrum, Wakil Ketua Komite Ekraf Kaltim Dr. Erwiantono, dan Fashion Designer: Fanti Wahyu Nurvita.












