Syamsi, Seniman Senior Pontianak, Lestarikan Miniatur Ikonik

(Pontinesia).

Kabarkalimantan.id — Meski usia Syamsi telah mencapai 67 tahun, hal tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, ia semakin giat berbagi ilmu dengan generasi muda melalui pelatihan keterampilan. Salah satu yang menjadi andalannya adalah pembuatan miniatur Tugu Khatulistiwa berbahan akrilik, sebuah ikon khas Kota Pontianak.

Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak bersama Dekranasda Kota Pontianak. Bertempat di Gedung UMKM Center, pelatihan ini bertujuan memberdayakan siswa SMK dan anggota komunitas kreatif. Mereka diajarkan teknik-teknik detail untuk membuat miniatur tersebut dengan pendekatan yang inovatif, seperti penggunaan teknologi laser untuk mempersiapkan bahan baku.

Teknologi laser menjadi sorotan dalam pelatihan ini. Proses pemotongan akrilik dengan laser memungkinkan penciptaan bagian-bagian miniatur yang presisi, seperti tonggak tugu dan huruf. Hal ini sangat membantu dalam mengurangi tingkat kesulitan yang biasanya muncul pada tahap awal pengerjaan.

“Dengan teknologi laser, bahan-bahan dapat dipotong dengan bentuk yang presisi sesuai desain. Ini membuat pekerjaan menjadi lebih efisien dan lebih mudah dirakit,” jelas Syamsi .

Ia juga menambahkan bahwa inovasi teknologi seperti ini penting untuk dipahami oleh generasi muda. Selain mempercepat proses kerja, teknologi tersebut membuka peluang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Pelatihan ini dirancang interaktif, di mana peserta bisa langsung mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan. Syamsi memastikan semua peserta memahami langkah-langkah dasar, mulai dari perakitan hingga tahap finishing.

“Tinggal dimahirkan saja. Mereka perlu mengenali karakter bahan, seperti jenis lem yang tepat atau teknik penyambungan yang benar,” ujarnya.

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Ibnu, siswa SMK Negeri 6, mengaku pelatihan ini memberikan pengalaman berharga. Baginya, tantangan terbesar adalah ukuran miniatur yang kecil, yang menuntut ketelitian dan kesabaran.

“Walaupun sulit, ini menyenangkan. Saya harap bisa terus mengasah keterampilan ini dan suatu saat memproduksi miniatur Tugu Khatulistiwa bersama teman-teman,” ungkap Ibnu.

Ia bahkan memiliki rencana untuk memasarkan miniatur hasil produksi kelompoknya. Langkah ini menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya berdampak pada keterampilan teknis, tetapi juga memotivasi peserta untuk berwirausaha.

Workshop ini juga dihadiri oleh Penjabat (Pj) Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Giarti Pancaksani Suwarsaningsih. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap seni kriya berbasis lokal.

“Di era modern ini, banyak generasi muda yang kurang sadar akan pentingnya seni kriya lokal. Padahal, produk seperti miniatur Tugu Khatulistiwa ini bukan hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga sumber ekonomi,” katanya.

Giarti berharap hasil pelatihan ini tidak hanya berhenti di sini. Ia mendorong peserta untuk terus berinovasi tanpa kehilangan esensi budaya lokal. Produk yang menarik, berkualitas, dan terjangkau akan memiliki peluang besar di pasar.

Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak menyelenggarakan workshop ini sebagai bagian dari program pemberdayaan UMKM. Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang.

Melalui kolaborasi dengan Dekranasda, pemerintah kota berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan produk lokal. Selain melatih keterampilan, program ini juga membuka peluang jaringan pemasaran untuk hasil kerajinan para peserta.

Sebagai pelatih, Syamsi ingin memastikan keterampilannya tidak hilang begitu saja. Ia ingin menanamkan semangat berkarya kepada generasi muda agar mereka mampu menciptakan karya yang bernilai ekonomi sekaligus melestarikan budaya lokal.

“Kita ingin generasi muda memahami bahwa kerajinan tangan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga peluang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat,” kata Syamsi.

Syamsi percaya bahwa melalui pelatihan ini, ia dapat memberikan bekal yang cukup kepada peserta untuk melanjutkan tradisi seni kriya di Pontianak. Dengan demikian, ikon seperti Tugu Khatulistiwa akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Miniatur Tugu Khatulistiwa memiliki potensi besar sebagai produk lokal yang bernilai tinggi. Dengan sentuhan inovasi dan promosi yang tepat, produk ini dapat menjadi cendera mata khas Pontianak yang diminati tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga internasional.

Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan besar untuk memajukan seni kriya di Pontianak. Sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam menciptakan produk lokal yang kompetitif di pasar global.

Melalui pelatihan ini, Syamsi tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan semangat dan cinta terhadap budaya lokal. Dukungan penuh dari Dekranasda dan Dinas Koperasi menjadi bukti bahwa Kota Pontianak memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Dengan keterampilan yang terus diasah, peserta pelatihan seperti Ibnu dan teman-temannya kini memiliki kesempatan untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah melalui seni kriya. Upaya Syamsi dalam melatih generasi muda menjadi teladan tentang bagaimana semangat berkarya dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat.